Kisah Jemput Bola Disdukcapil Tasikmalaya: Dari Merayu ODGJ dengan Rokok hingga Senyum Haru Lansia


Media Warga+62.My.id – Mengurus KTP di kota besar mungkin hanya butuh hitungan jam. Tapi bagi warga pelosok Kabupaten Tasikmalaya, jarak, kondisi fisik, dan keterbatasan lainnya sering jadi penghalang untuk mendapat dokumen paling dasar sebagai warga negara.

Melihat kenyataan itu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Tasikmalaya menggulirkan program "jemput bola". Kini warga tak perlu lagi jauh-jauh ke kantor Disdukcapil Singaparna. Petugas yang datang ke desa, dokumen pun langsung dicetak di tempat.

KTP Jadi Kunci Akses Bantuan dan Layanan Kesehatan

Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Kabupaten Tasikmalaya Yayan Hendrayani menegaskan, layanan ini lebih dari sekadar urusan administrasi.

"Data kependudukan itu penting sekali. Tanpa KTP atau KK, warga tidak bisa mengakses BPJS Kesehatan, bansos, dan program pemerintah lainnya. Kami ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal," ujar Yayan, Rabu 15/7/2026.

Buktinya terlihat saat pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa TMMD ke-129 di Desa Parungponteng, Kecamatan Parungponteng, Rabu 15/6/2026. Stan Disdukcapil langsung dipadati warga sejak pukul 08.00 WIB.

Mulai dari pembuatan akta kelahiran, KK, KTP-el, sampai aktivasi KTP Digital semua dilayani. "Hanya untuk cetak ulang KTP saja ada lebih dari 50 pemohon. Kami buka layanan dari pagi sampai antrean terakhir selesai," tambah Yayan.

Kisah di Lapangan: Rayuan Halus untuk ODGJ

Perjalanan tim jemput bola tidak selalu mudah. Medan desa yang jauh dan berbukit sudah biasa. Tantangan terbesar justru saat berhadapan dengan warga dengan kebutuhan khusus.

Kamis 16/7/2026, giliran Desa Cibungur yang disambangi. Sasaran utamanya warga disabilitas, Orang Dengan Gangguan Jiwa ODGJ, dan para lansia yang tidak mungkin ke kantor kecamatan.

Di sinilah kesabaran petugas diuji. Ada ODGJ yang menolak keras saat diminta perekaman foto.

"Kami tidak memaksa. Kami dekati pelan-pelan, ajak ngobrol, dan yakinkan. Pernah ada yang baru mau difoto setelah kami beri sebungkus rokok seperti yang dia minta. Setelah tenang, proses perekaman akhirnya lancar," kenang Yayan sambil tertawa.

Bagi petugas, lelah terbayar lunas ketika melihat senyum malu seorang warga berkebutuhan khusus atau mata berbinar seorang nenek saat memegang KTP barunya.

Bidik Remaja 16 Tahun, Siapkan KTP Sejak Dini

Program ini juga menyasar generasi muda. Di Parungponteng, banyak remaja usia 16 tahun yang ikut perekaman.

"Rata-rata yang belum punya KTP itu anak 16 tahun. Mereka sudah bisa direkam sekarang. Nanti pas 17 tahun, KTP fisiknya tinggal diambil," jelas Yayan.

Disdukcapil berkomitmen membuat "jemput bola" jadi program rutin berdasarkan permintaan desa. Desa yang membutuhkan cukup berkoordinasi dan mendata warganya lebih dulu agar pelayanan tepat sasaran.

Bagi Yayan dan tim, selembar KTP bukan hanya kartu identitas. Ia adalah pintu bagi setiap warga untuk mendapat hak hidup yang layak, setara, dan manusiawi.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama