Media Warga+62.My.id – Di balik suasana tenang Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, tersimpan jejak sejarah panjang kerajinan anyaman bambu. Dahulu kampung ini dikenal sebagai sentra produksi yang menghidupi ratusan keluarga dan menjadi identitas budaya Kota Tasikmalaya.
Kini, di tengah derasnya pembangunan dan perubahan zaman, eksistensi tradisi tersebut mulai tergerus.
Bahan Baku Langka dan Regenerasi Tersendat
Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Supriatna Sumpena atau yang akrab disapa Tatang Pahat, menyebut ada dua persoalan besar yang menghimpit para perajin.
Pertama, kelangkaan bahan baku. Alih fungsi lahan menjadi perumahan dan kawasan usaha membuat rumpun bambu di sekitar Situ Beet semakin sedikit. Akibatnya, para pengrajin terpaksa membeli bambu dari luar daerah dengan harga lebih mahal.
"Kondisi ini membuat biaya produksi naik dan berdampak pada keberlanjutan usaha mereka," kata Tatang, kepada awak media,Kamis,(16/07/2026).
Kedua, masalah regenerasi. Minat anak muda untuk menekuni anyaman bambu kian menurun. Banyak yang beralih ke pekerjaan lain karena nilai ekonomi dari kerajinan ini dianggap kurang menjanjikan.
"Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan imbauan cinta tradisi. Harus ada ekosistem yang membuat perajin bisa hidup layak dari hasil karyanya," ujarnya.
Kibar Budaya 2026, Upaya Menghidupkan Kembali Situ Beet
Melihat tantangan itu, DKKT Kota Tasikmalaya berinisiatif menggelar "Kibar Budaya DKKT 2026" di Situ Beet pada 25 Juli 2026. Festival ini bertujuan mengembalikan perhatian publik pada potensi sekaligus persoalan yang dihadapi sentra anyaman bambu tersebut.
Menurut Tatang, pelestarian budaya akan bermakna jika berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi. Itu mencakup ketersediaan bahan baku, akses pembiayaan, perluasan pemasaran, inovasi produk, hingga pendidikan bagi calon perajin baru.
"Budaya tidak hanya hidup lewat panggung atau pameran. Ia akan bertahan kalau ada kebijakan nyata yang memihak pelaku budaya dan lingkungan pendukungnya," tegasnya.
Festival ini akan diisi beragam pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga kreasi seni dari masyarakat Mangkubumi. Tujuannya memberi ruang apresiasi, edukasi, dan kolaborasi.
Lebih dari itu, "Kibar Budaya" diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan nilai-nilai lokal di tengah arus modernisasi.
Menjaga Anyaman, Menjaga Ingatan Kolektif
Bagi DKKT, Situ Beet bukan sekadar lokasi kerajinan. Kampung ini adalah simbol bahwa identitas budaya butuh dijaga bersama.
"Menjaga anyaman bambu berarti menjaga pengetahuan, keterampilan, dan ingatan kolektif warga Tasikmalaya. Kalau tradisi ini hilang, sebagian cerita kota kita juga ikut hilang," pungkas Tatang.
Melalui festival tersebut, DKKT berharap Situ Beet kembali menjadi pusat kreativitas yang hidup, bukan hanya menjadi cerita masa lalu.***
