Media Warga+62.My.id – Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Workshop Implementasi Program Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB di Hotel Horison, Kota Tasikmalaya, Minggu, 21,Juni,2026.
Kegiatan yang diikuti tenaga pendidik dan pengawas se-Kota Tasikmalaya ini diinisiasi oleh Anggota DPR RI, Ferdiansyah. Diky menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Menurutnya, SPAB menjadi langkah konkret untuk menjamin keselamatan siswa dan guru saat proses belajar mengajar.
“Kita tinggal di daerah rawan bencana. Gempa, longsor, banjir bisa datang kapan saja. Sekolah harus siap. Mulai dari jalur evakuasi, titik kumpul, sampai simulasi rutin. Jangan sampai kita baru bergerak setelah korban berjatuhan,” tegas Diky dalam sambutannya.
Namun, Diky menekankan ada hal lain yang tak kalah penting untuk diwaspadai, yakni bencana akhlak. Ia menyebut, kerusakan lingkungan dan bencana alam kerap diawali dari krisis moral.
“Bencana itu bisa saja terjadi diawali bencana akhlak. Salah satunya pembangunan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Menebang pohon sembarangan, buang sampah ke sungai, akhirnya banjir dan longsor yang kena,” ujarnya.
Karena itu, Diky berharap program SPAB tidak berhenti pada aspek teknis kebencanaan. Pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Guru diminta menjadi teladan, mengajarkan siswa menjaga alam sekaligus menjaga perilaku.
“Kalau akhlaknya baik, insyaallah alam juga bersahabat. Sekolah aman bukan cuma dari gempa, tapi juga dari kenakalan remaja, perundungan, dan perilaku menyimpang,” tambahnya.
Workshop SPAB ini digelar untuk membekali guru dan kepala sekolah dengan pengetahuan mitigasi bencana. Materi yang dibahas meliputi penyusunan dokumen rencana kontingensi, simulasi evakuasi, hingga integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum.
Diky menutup sambutannya dengan ajakan kolaborasi. Ia meminta semua pihak, mulai dari dinas, sekolah, orang tua, hingga masyarakat, bergerak bersama mewujudkan satuan pendidikan yang benar-benar aman. Baik dari ancaman bencana alam maupun bencana akhlak yang menggerus generasi.***
