Media Warga+62My.id – Lapang Batu Wulung di Kp. Peundeuysari RT 04 RW 07, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 14 Juni 2026, dipadati pecinta domba tangkas. Silaturahmi akbar se-Kecamatan Cisayong itu sekaligus menjadi ajang peresmian lapang baru Padepokan Batu Wulung.
Pembina Padepokan Batu Wulung, Asep bin Muhdi, menyampaikan terima kasih kepada anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Fraksi Golkar, Bapak Rofi, yang telah menyumbang seperangkat kendang. Bantuan tersebut diserahkan melalui Ketua Dewan Kesenian Sunda Asih Kabupaten Tasikmalaya, Ibu Leni.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih. Kendang ini bukan sekadar alat musik, tapi penyemangat agar seni dan budaya Sunda tetap hidup di Cisayong,” ujar Asep.
Ia menjelaskan, kegiatan ini digelar dengan tiga tujuan utama. Pertama, memperkenalkan Lapang Batu Wulung sebagai arena baru bagi pecinta domba tangkas. Kedua, memperkenalkan alat musik kendang hasil bantuan dewan untuk mengiringi kegiatan kesenian di padepokan. Ketiga, mendorong peningkatan kesejahteraan warga, khususnya masyarakat sekitar Kp. Peundeuysari.
Ketua Pelaksana sekaligus Pengurus PAC Cisayong, Adit, menyebut acara berjalan lancar dan penuh kekeluargaan. Menurutnya, ajang silaturahmi seperti ini terbukti meningkatkan minat warga memelihara domba tangkas. “Dampaknya nyata. Dulu harga domba satu ekor hanya satu juta, sekarang bisa tembus sepuluh juta per ekor. Peternak jadi lebih semangat,” ungkap Adit.
Masyarakat pun menyambut positif kehadiran Lapang Padepokan Batu Wulung. Lapang ini diharapkan menjadi pusat kegiatan domba tangkas sekaligus ruang ekspresi seni budaya. “Alhamdulillah warga mendukung. Ini bisa jadi magnet ekonomi baru,” tambah Adit.
Tokoh budaya Desa Santanamekar, Ayah Encep, turut bangga dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Baginya, perpaduan antara tradisi domba tangkas dan kesenian Sunda adalah bentuk nyata pelestarian budaya. “Saya sangat apresiasi. Budaya dan seni harus terus dirawat. Jangan sampai hilang. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus berlanjut,” tuturnya.
Acara silaturahmi diakhiri dengan penampilan adu ketangkasan domba dan tabuhan kendang dari perangkat baru. Suasana meriah, guyub, dan penuh semangat gotong royong mewarnai Lapang Batu Wulung.
Dengan hadirnya lapang baru dan dukungan alat kesenian, Padepokan Batu Wulung diharapkan menjadi episentrum baru bagi pecinta domba tangkas sekaligus penjaga marwah budaya Sunda di Cisayong.***
