Media Warga+62.My.id – Suasana khidmat menyelimuti area Frozen Pancasila, Kota Tasikmalaya. Para pegiat budaya, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam kegiatan Tawasul dan Tausiyah bertajuk "Ngabako Saamparan" yang digelar Yayasan Sanca Wulung Galunggung,Kamis malam, (11 Juni 2026).
Ketua Yayasan Sanca Wulung Galunggung, Ki Sanca Wulung Galunggung, menjelaskan acara ini sejatinya agenda rutin bulanan. Namun, edisi kali ini terasa istimewa karena berstatus Tawasul Akbar yang hanya digelar dua kali dalam setahun.
“Alhamdulillah, sampai malam ini kita sudah melaksanakan kegiatan ini sebanyak 27 kali. Konsisten sebulan sekali, dan dua kali setahun kita buat lebih besar,” ujar Ki Sanca.
Ia menegaskan, "Ngabako Saamparan" lahir untuk menepis stigma yang kerap melekat pada dunia kebudayaan. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya tidak dekat dengan kemusyrikan. Justru para pegiat budaya ingin memperkuat nilai agama. Budaya dan agama harus sejalan,” tegasnya.
Rangkaian acara diawali tawasul bersama, dilanjutkan tausiyah yang menggugah. Jamaah larut dalam doa, memohon keberkahan untuk Kota Tasikmalaya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Agus Fauzi, hadir dan memberi apresiasi tinggi. Menurutnya, "Ngabako Saamparan" menjadi momen penting untuk menumbuhkan nilai keagamaan di Kota Santri.
“Ini sejalan dengan salah satu program prioritas Kota Tasikmalaya, yaitu Tasik Religi. Ketika budaya dan agama bertemu, maka identitas kota ini semakin kuat,” kata Agus.
Ia berharap kegiatan ini terus berkelanjutan dan memantik lembaga lain untuk mengadakan agenda serupa. “Kalau makin banyak komunitas yang mengisi ruang publik dengan kegiatan positif seperti ini, Tasikmalaya akan semakin adem,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua Forum Peduli Pegiat Kebudayaan Tasik Raya, Sandi Yusina. Ia bersyukur bisa mengikuti kegiatan tersebut. “Ini ajang silaturahmi yang luar biasa. Selain kumpul dengan sesama pegiat budaya, kita juga dapat siraman rohani untuk meningkatkan iman dan takwa,” ucapnya.
Sandi mengaku rutin mengikuti kegiatan serupa di padepokan lain. Baginya, tradisi tawasul dan tausiyah adalah cara merawat spiritualitas di tengah gempuran modernisasi.
Senada, Ketua Yayasan Cinta Generasi, Edi Supardi, S.Sos, menyebut "Ngabako Saamparan" sebagai ruang belajar yang langka. “Saya bersyukur bisa hadir. Selain menambah ilmu agama, kita juga bisa memperluas jaringan silaturahmi dengan banyak tokoh,” tuturnya.
Yayasan Sanca Wulung Galunggung berkomitmen menjaga konsistensi acara ini. Ke depan, mereka membuka pintu kolaborasi dengan komunitas, pesantren, hingga pemerintah agar gaung "Ngabako Saamparan" makin luas.
Bagi Ki Sanca, tugas pegiat budaya bukan hanya melestarikan kesenian, tetapi juga menjaga akhlak dan spiritualitas masyarakat. “Kalau budaya kita kuat, agama kita hidup, insyaAllah Tasikmalaya selamat dari hal-hal yang merusak,” pungkasnya.***
