Ribuan Warga Aboh Sukamulya Tumpah Ruah di Pawai Imtihan Madrasah Al Islamiyah, Ada Simbol Penjara untuk Koruptor


Media Warga+62.My.Id – Jalanan Aboh Sukamulya berubah menjadi panggung rakyat, Rabu, (25 Juni 2026). Ribuan warga memadati rute pawai Imtihan Madrasah Diniyah Al Islamiyah. Sepanjang garis start hingga finish, warga RW 01 dan RW 02 turun ke jalan membawa aneka kreasi yang memanjakan mata.

Ada yang mengenakan baju adat Sunda, kostum kesenian tradisional, hingga properti unik hasil kreativitas warga. Sorotan terbesar jatuh pada satu kreasi: simbol penjara berjeruji besar yang diseret puluhan orang dengan tulisan “ Tahanan MBG”. Atraksi itu langsung menjadi pusat perhatian dan disambut tepuk tangan penonton.

Ketua Yayasan Madrasah Al Islamiyah, Jajang Fahmi, menyebut pawai ini agenda tahunan untuk memeriahkan Imtihan siswa-siswi MDTA, TKA, dan TPA Al Islamiyah. “Ini bukan sekadar jalan-jalan. Imtihan adalah bentuk apresiasi untuk anak-anak yang sudah belajar Al-Qur’an dan ilmu agama selama setahun. Kami ingin mereka bangga dan termotivasi,” ujarnya.

Menurut Jajang, kegiatan berlangsung selama tiga hari. Selain pawai ta’aruf, panitia mengisi hari-hari Imtihan dengan lomba keagamaan, hafalan, dan pentas seni anak-anak. “Kami beri ruang bagi santri menampilkan bakat. Ada nasyid, marawis, dongeng islami, sampai drama kolosal. Tujuannya membangun keberanian dan kecintaan anak pada madrasah,” katanya.

Ketua Panitia Penyelenggara, Anto Purwanto, menjelaskan pawai melibatkan hampir seluruh elemen warga. “Yang jalan tidak hanya santri dan guru. Bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, sampai kakek-nenek ikut. RW 01 dan RW 02 kompak menyiapkan kreasi masing-masing. Ada yang bikin tandu islami, replika masjid, dan properti kreatif lainnya,” jelasnya.

Anto menyampaikan apresiasi kepada masyarakat. “Terima kasih untuk warga yang sudah menyiapkan kreasi, menjaga ketertiban, dan meramaikan jalan. Tanpa kekompakan ini, pawai tidak akan semeriah ini,” ujarnya.

Ia berharap Imtihan menjadi penyemangat belajar bagi siswa-siswi. “Kalau anak-anak lihat orang tua dan tetangga ikut turun, mereka merasa didukung. Mudah-mudahan semangatnya nular ke ruang kelas, jadi lebih giat ngaji dan belajar,” kata Anto.

Selain memompa semangat santri, pawai juga memperkuat ikatan sosial warga. Di sela barisan, tampak warga saling sapa, berbagi air minum, dan membantu mengatur barisan anak-anak. Lagu-lagu islami dan tabuhan rebana serta drumband band mengiringi langkah kaki ribuan orang dari ujung ke ujung kampung.

Kreasi “penjara koruptor” yang diusung warga menjadi simbol pesan moral. Panitia menegaskan, madrasah ingin menanamkan nilai jujur, amanah, dan tanggung jawab sejak dini. “Kami ajarkan anak-anak bahwa ilmu harus berpasangan dengan akhlak. Termasuk cinta keadilan dan benci korupsi,” kata Jajang.

Cuaca cerah membuat pawai berjalan lancar. Petugas keamanan kampung dan relawan muda bersiaga di titik-titik rawan. Panitia juga menyiapkan pos kesehatan agar peserta tetap nyaman selama tiga hari kegiatan.

Menjelang penutupan, pentas seni anak-anak menjadi magnet warga. Santri cilik tampil percaya diri di atas panggung sederhana. Ada yang melantunkan ayat suci, ada yang menari Rampak Sekar, dan ada pula yang memeragakan kisah Nabi dengan properti kardus.

Bagi warga Aboh Sukamulya, Imtihan bukan hanya ujian akhir madrasah. Ia menjelma perayaan kebersamaan, panggung kreativitas, dan ruang pendidikan karakter. Dari barisan pawai hingga pentas seni, pesan yang sama terasa: belajar agama itu menyenangkan, dan membangun kampung harus kompak.

Dengan semangat itu, Jajang dan Anto berharap tradisi Imtihan terus hidup dan berkembang. “Tahun depan kita bikin lebih meriah lagi. Targetnya, semakin banyak anak yang cinta madrasah, dan semakin kuat silaturahmi warga,” tutup Anto. (Evhet)***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama