Media Warga+62.My.id – Tepuk tangan meriah mengiringi selesainya ujian praktek 25 calon perias pengantin di Sanggar Molek, Jumat 26 Juni 2026. Setelah 25 hari digembleng teori dan praktik, para peserta Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) akhirnya membuktikan kemampuannya langsung di hadapan juri. Kegiatan ini digelar di Sanggar Molek, Kampung Nagrog RT 01/RW 03, Desa Dawagung, Kabupaten Tasikmalaya.
Sejak pagi, suasana sanggar berubah menjadi studio rias profesional. Cermin, lampu ring light, dan meja rias dipenuhi alat make up, sanggul, hingga aksesori pengantin. Satu per satu peserta mempraktekkan ilmu yang dipelajari: dari skin prep, foundation, eye makeup, hingga penataan rambut dan pemasangan aksesoris. Juri tampak serius mengecek detail, mulai dari gradasi warna hingga kerapian sasakan rambut.
Yeti Kusmayati, penanggung jawab program PKW, mengaku bangga melihat perkembangan peserta. “Alhamdulillah hari ini mereka sudah sampai tahap ujian setelah 25 hari pelatihan. Rata-rata sudah bisa merias meski belum sempurna. Untuk ukuran pemula, hasilnya sudah layak untuk mulai membuka jasa,” ujarnya.
Yeti menekankan, skill saja tidak cukup. Lulusan PKW harus berani masuk pasar. Ia mendorong peserta memanfaatkan media sosial sebagai etalase. “Sekarang orang cari MUA lewat Instagram, TikTok, sampai WhatsApp. Upload before-after, testimoni, dan harga paket. Konsisten promosi, insyaAllah konsumen datang,” katanya.
Popong Carminah, S.M,salah satu juri, membeberkan kriteria penilaian. Ada tiga pilar utama: penataan make up, penggunaan aksesori, dan keselarasan busana pengantin. Ia menyebut hairdo menjadi tantangan terbesar.
“Sasak supaya rambut berdiri dan tahan lama itu butuh teknik dan kesabaran. Banyak peserta yang awalnya kesulitan, tapi sekarang sudah lebih rapi,” ungkapnya.
Selain teknik, Popong menyorot sikap kerja. “MUA itu industri jasa. Kedisiplinan, tepat waktu, ramah, dan rapi adalah modal. Pelanggan bayar bukan cuma untuk cantik, tapi juga untuk rasa nyaman. Itu yang terus Sanggar Molek tanamkan,” tegasnya.
Secara umum, hasil ujian masuk kategori “cukup lumayan” untuk level pemula. Beberapa peserta sudah berani mengambil konsep modern glam, sementara lainnya masih kuat di nuansa tradisional Sunda. Catatan evaluasi terbanyak ada di blending warna mata dan ketahanan riasan di cuaca panas.
Instruktur tata rias Erwin Agustin menggarisbawahi pentingnya area mata. “Mata adalah titik fokus pengantin. Kalau eye makeup-nya hidup, seluruh wajah ikut naik. Makanya kami genjot latihan eyeshadow, eyeliner, dan bulu mata sejak minggu pertama,” jelasnya.
Salah satu peserta, Fitri, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Awalnya ia gagap karena belum pernah memegang kuas sama sekali. “Saya sempat bingung mau mulai dari mana. Tapi berkat latihan tiap hari, bimbingan instruktur, dan teman-teman yang saling support, akhirnya bisa menyelesaikan ujian,” tuturnya.
Fitri kini optimis membuka jasa rias rumahan di lingkungannya. Ia berencana membuat portofolio dari hasil ujian hari ini dan belajar sistem paket hemat untuk pengantin di desa.
Program PKW Sanggar Molek memang dirancang untuk melahirkan wirausahawan baru, bukan sekadar MUA. Kurikulumnya memadukan teknik rias, manajemen usaha kecil, hingga dasar-dasar digital marketing.
Dari 25 peserta yang duduk di bangku ujian hari ini, lahir 25 calon pelaku ekonomi kreatif Tasikmalaya. Dengan keterampilan, mental disiplin, dan strategi promosi, mereka diharapkan mampu merias hari bahagia orang lain, sekaligus menata masa depan usahanya sendiri.
Sanggar Molek menutup kegiatan dengan pesan: belajar boleh selesai, tapi proses naik level jangan berhenti. Dari Nagrog, misi mencetak perias pengantin profesional terus berlanjut.***
