Mahasiswa Poltekkes Tasikmalaya Gandeng Para Suami Lewat Program “Ratu Cetar” di Puskesmas Bantar


Media Warga+62.My.id – Keterlibatan suami dalam masa kehamilan dan nifas masih jadi pekerjaan rumah. Untuk menjawab tantangan itu, Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya meluncurkan program pengabdian masyarakat bertajuk Ratu Cetar, singkatan dari (Orang Tua Cerdas dan Pintar), di wilayah kerja Puskesmas Bantar Kota Tasikmalaya.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Sariestya Rismawati, SST, M.Keb, menjelaskan program ini fokus meningkatkan pengetahuan calon orang tua sekaligus mendorong peran aktif suami mendampingi istri. Sasaran utamanya ibu hamil beserta pasangannya.

“Kami ingin suami tidak hanya jadi penonton. Mulai dari mengantar periksa kehamilan, menemani saat persalinan, sampai ikut merawat bayi di masa nifas,” ujar Sariestya,di sela kegiatan, Senin, (22/06/2026).

Capaian yang ditargetkan cukup jelas. Pertama, pengetahuan calon orang tua soal persiapan kehamilan, perawatan masa hamil, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir meningkat. Kedua, keterlibatan suami dalam pendampingan ibu makin tinggi. Indikatornya sederhana, suami mau hadir di ruang periksa, sigap saat istri melahirkan, dan terlibat mengurus bayi.

Sebelum turun ke lapangan, tim yang juga diperkuat Dede Gantini, SST, M.Keb dan Rizky Muhammad Subagja, S.Kep, MPH, lebih dulu melakukan sosialisasi ke Puskesmas Bantar. Mereka memaparkan rencana kegiatan sekaligus menggalang dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Langkah berikutnya, melatih kader menggunakan buku panduan Ratu Cetar agar materi tersampaikan seragam.

Program ini juga menyentuh aspek kesehatan mental. Peserta menjalani tes EPDS untuk deteksi dini gangguan psikologis pada ibu hamil dan nifas. Jika ditemukan gejala, akan ada tindak lanjut dari tim keperawatan jiwa, sejalan dengan program pemerintah.

Kepala Puskesmas Bantarsari, H. Tedi Setyadi,S.KM, M.Si, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, edukasi yang menyasar pasangan, bukan hanya ibu, akan memperkuat ketahanan keluarga.

“Ketika suami paham, beban ibu berkurang. Risiko komplikasi juga bisa ditekan karena ada yang mengingatkan jadwal kontrol dan tanda bahaya,” kata Tedi.

Senada dikatakan Bidan Koordinator Puskesmas Bantarsari, Shinta Saraswati, SST, menurutnya, program Ratu Cetar membantu kader dan bidan di lapangan. Materi yang praktis memudahkan penyampaian informasi ke masyarakat.

“Harapannya, budaya suami siaga tidak berhenti di pelatihan saja, tapi jadi kebiasaan baru di setiap keluarga,” tutur Shinta.

Lewat Ratu Cetar, Poltekkes Tasikmalaya ingin menegaskan pesan penting, kehamilan bukan urusan ibu semata. Butuh kerja sama, ilmu, dan empati dari suami. Dari Puskesmas Bantar, gerakan kecil ini diharapkan menular ke wilayah lain, mencetak orang tua yang cerdas, pintar, dan siap menyambut generasi sehat untuk Kota Tasikmalaya.(Vhet)***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama