Media Warga+62.My.id – Nuansa budaya dan kepedulian sosial menyatu dalam Gebyar Muharam 1448 Hijriyah yang digelar Padepokan Pakalah Tunggal Putra Galunggung, di Sindangsari, Desa Rancapaku, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 27, Juni 2026.
Lapangan padepokan berubah menjadi panggung kreasi. Ratusan warga hadir menyaksikan atraksi pencak silat dan tarian Jaipong dari para pesilat cilik hingga remaja. Di sela pertunjukan, panitia menyalurkan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa sekitar. Tangis haru bercampur senyum mewarnai momen itu.
Acara ini dihadiri Camat Padakembang, Dadan, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya Asep Zaini, Dewan Pembina Paguron Pupu, S.Pd.I, Ketua IPSI Kabupaten Tasikmalaya H. Eres Ruslil Aeres, S.H., serta unsur undangan lainnya.
Tonggak Baru: Terima SKOK dari Disdikbud
Momen paling ditunggu keluarga besar padepokan terjadi saat penyerahan Surat Keterangan Organisasi Kesenian atau SKOK dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Dokumen itu menjadi pengakuan resmi pemerintah setelah padepokan berdiri hampir lima tahun.
Dewan Pembina Paguron, Pupu, S.Pd.I, menyebut SKOK adalah pijakan hukum. “Ini dasar kami bergerak. UUD menegaskan negara hadir memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Kami ingin padepokan ikut ambil bagian,” ujarnya.
Ketua Padepokan Pakalah Tunggal Putra Galunggung, Yuyu, mengungkapkan bahwa selama lima tahun, Padepokan Pakalah Tunggal Putra Galunggung tidak hanya fokus pada silat. Jaipong, seni tradisi Sunda, juga dibina serius. Para siswa sudah turun di berbagai event dan bersiap tampil di tingkat provinsi. “Kami ingin anak-anak punya ruang ekspresi, bukan hanya fisik tapi juga rasa,” kata Yuyu.
Namun ia jujur mengakui keterbatasan. Padepokan belum memiliki sanggar permanen dan masih kekurangan matras latihan. “Kami mohon dukungan pemerintah dan masyarakat. Sarana memadai akan membuat pembinaan lebih optimal,” harapnya.
Bagi Pupu, silat bukan sekadar gerak. “Ini olah raga sekaligus olah rasa. Anak harus kuat secara fisik, tapi juga menjaga akhlak dan karakter. Tanpa itu, ilmu jadi liar,” tegasnya.
Apresiasi Pemerintah Kecamatan dan Disdikbud
Camat Padakembang menyambut positif kegiatan tersebut. Ia bangga Padakembang masih punya komunitas yang menjaga budaya leluhur di tengah gempuran digitalisasi. “Jangan sampai anak cucu kita lupa jati diri. Budaya harus terus hidup dan berkembang,” ujarnya.
Camat menegaskan, visi Kabupaten Tasikmalaya untuk menjadi daerah religius, maju, dan makmur hanya bisa dicapai bila masyarakat sehat dan cerdas. “Padepokan seperti ini adalah mitra. Saya berharap dinas terkait terus mendorong pertumbuhannya,” katanya.
Kabid Kebudayaan Disdikbud, Asep Zaini, mengapresiasi konsistensi padepokan selama hampir lima tahun. Ia mengingatkan seluruh padepokan agar menuntaskan legalitas agar mudah terdaftar dan dibina pemerintah.
Ia berharap kegiatan ini bisa rutin dilaksanakan secara rutin tidak hanya di hari-besar saja tapi harus ada agenda rutin.
Adapun terkait usulan sanggar dan matras, Asep berjanji akan mengupayakan, meski APBD masih terbatas. “Kami paham kebutuhan di lapangan. Secara bertahap akan kami dorong agar kesenian dan olahraga tradisional dapat ruang yang layak,” jelasnya.
Komitmen IPSI Kuatkan Pembinaan
Ketua IPSI Kabupaten Tasikmalaya, H. Eres Ruslil Aeres, S.H., juga memberi dukungan penuh. “Kami berkomitmen mendorong Padepokan Pakalah Tunggal Putra Galunggung agar makin berkembang. Atlet silat dan penari Jaipong dari sini bisa jadi duta budaya Tasikmalaya,” ujarnya.
Ia berharap,seni pencak silat di Kabupaten Tasikmalaya terus berkembang sebagai upaya melestarikan kebudayaan,dan bisa berprestasi membanggakan nama kabupaten Tasikmalaya.
Gebyar Muharam ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Anak yatim yang menerima santunan tampak sumringah membawa bingkisan. Para pesilat cilik berfoto bersama dengan medali seadanya, tapi wajah mereka memancarkan bangga.
Bagi warga Rancapaku, acara itu lebih dari hiburan. Ia menjadi bukti bahwa tradisi, olahraga, dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan. Dengan SKOK di tangan dan dukungan yang mulai mengalir, Padepokan Pakalah Tunggal Putra Galunggung kini menatap babak baru: membangun sanggar, melengkapi sarana, dan mencetak generasi yang tangguh secara fisik, kaya budaya, dan kuat akhlaknya.***
