Media Warga+62.My.id – Ratusan warga Cigantang Girang, Kelurahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya memadati lokasi Imtihan dan Kreasi Seni Santri Madrasah Al Ihsan Al Islami, Jumat, 26 Juni 2026. Kehadiran Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, jadi kejutan yang membuat suasana makin meriah.
Diky datang sekitar 30 menit lebih cepat dari jadwal yang disepakati panitia. Ia bahkan disambut dengan atraksi sisingaan, kesenian khas Jawa Barat asal Subang, yang langsung memecah tepuk tangan warga.
“Alhamdulillah disambut luar biasa. Naik sisingaan, ini kehormatan sekaligus edukasi. Anak-anak bisa kenal budaya daerah sejak dini,” ujar Diky di sela acara.
Diky menjelaskan, pagi harinya ia memang punya agenda di Bandung. Namun sebelum kegiatan rampung, ia izin kepada Wakil Gubernur Jawa Barat untuk kembali ke Kota Tasikmalaya. Alasannya sederhana, warga Cigantang Girang sudah mengundang dan ia tidak ingin mengecewakan.
“Undangan warga itu amanah. Dari Bandung saya langsung meluncur ke Cigantang. Datang lebih awal kan lebih baik daripada telat,” katanya sambil tersenyum.
Acara Imtihan itu tidak hanya berisi pentas seni santri. Panitia juga menggelar bazaar UMKM binaan warga. Diky menilai langkah itu sejalan dengan program Pemerintah Kota Tasikmalaya, yakni Pemberdayaan Ekonomi Lokal Kewilayahan atau Pelak. “UMKM harus naik kelas. Lewat bazar seperti ini, produk lokal dapat panggung dan pembeli baru,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Diky menyoroti pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini. Ia menyebut jenjang PAUD, TK, dan Madrasah Ibtidaiyah sebagai pondasi awal.
“Anak pintar saja tidak cukup kalau tanpa tuntunan agama. Sekarang banyak yang merasa pintar, tapi kosong arah. Madrasah hadir supaya kepintaran dibarengi akhlak,” tegasnya.
Ia berharap santri Madrasah Al Ihsan Al Islami tumbuh dengan iman dan takwa yang kuat. “Mudah-mudahan ke depan, anak-anak ini jadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan membawa kebaikan untuk Tasikmalaya,” ucap Diky.
Pantauan di lokasi, panggung kreasi seni dipenuhi penampilan nasyid, tari tradisional, dan pembacaan ayat suci oleh santri cilik. Di sisi lain, tenda UMKM ramai pembeli. Mulai dari jajanan, kerajinan, sampai produk fashion lokal laku terjual.
Ketua panitia mengapresiasi kepedulian Diky yang rela memotong agenda di Bandung. “Kami kaget dan senang. Pak Wakil datang lebih awal dan berbaur dengan warga. Itu energi tersendiri untuk kami,” katanya.
Bagi warga Cigantang Girang, kehadiran Diky lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi simbol kedekatan pemerintah dengan masyarakat. Dari sisingaan yang mengundang tawa, sampai pesan tentang pendidikan dan UMKM, acara itu merangkum harapan satu kampung: anak-anak hebat, ekonomi warga naik, dan budaya tetap hidup.***
