Media Warga+62.My.id – Puluhan kendang ditabuh serentak, menggetarkan udara dan penonton. Momen itu menjadi penanda resmi lahirnya Kendangers Tasikmalaya lewat gelaran bertajuk "Gaung Kendang" yang diselenggarakan di Selasar GCC Dadaha,kota Tasikmalaya, Minggu malam 21 Juni 2026.
Tak hanya menonton, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, ikut bergabung. Ia duduk lesehan di antara para seniman, lalu memainkan kendang. Aksi Diky langsung disambut tepuk tangan dan sorakan warga yang begitu antusias menyaksikan pertunjukan. Bagi masyarakat, pertunjukan kendang massal seperti ini jarang terjadi dan selalu ditunggu.
Ketua Panitia, Jajang Kasrana, menyebut pentas malam itu sebagai panggung perdana kendang skala besar di Tasikmalaya. “Ini langkah awal. Kami ingin memberi rumah bagi para penabuh agar silaturahmi terjaga dan kreativitas tidak mati,” katanya.
Ketua Umum Kendangers Tasikmalaya, Ahmad Nasrudin alias Ahmad Greg, menjelaskan komunitas ini sudah dirintis sejak 2020 dengan nama Kendangers Singaparna. Seiring bertambahnya anggota, jangkauannya meluas hingga berubah nama. “Sekarang ada sekitar 300 anggota di kota dan kabupaten. Potensinya beragam, dari perajin kendang sampai penabuh andal. Semua kami rangkul,” ujarnya.
Kendangers berpegang pada filosofi “hidup adalah udunan”, yang menekankan gotong royong. Nilai itu langsung dipraktikkan dalam gelaran perdana ini. Ke depan, Ahmad memaparkan tiga program utama: Kendanger Saba Lembur, Saba Sakola, dan Saba Komunitas. “Kami akan turun ke kampung, sekolah, dan komunitas. Tujuannya berbagi ilmu, pengalaman, sekaligus terus belajar,” jelas dia.
Menurut Ahmad, Tasikmalaya tidak kekurangan seniman, tetapi masih kekurangan ruang tampil. Karena itu regenerasi menjadi hal wajib. “Kalau tidak diwariskan ke anak muda, kendang hanya jadi tontonan. Pelestarian butuh penerus,” tegasnya.
Semangat kebersamaan komunitas tertuang dalam jargon "Dulur Salembur Baraya Sadunya". Satu kampung maupun satu dunia, tetap saudara.
Diky Candra dalam sambutannya menyampaikan apresiasi. “Saya bangga ada komunitas yang serius menjaga budaya Sunda. Ini harus kita dukung penuh,” ucapnya. Ia mengaku sejak awal menjabat bercita-cita membentuk Rineka Kasenian Sunda atau (Rakasun), namun terkendala anggaran. Diky berharap Kendangers menjadi pemantik.
“Jangan berhenti malam ini. Buat agenda rutin. Kalau konsisten, orang akan datang ke Tasikmalaya bukan hanya untuk kuliner, tapi juga untuk kendang,” kata Diky. Ia optimistis Kendangers bisa memotivasi generasi muda dan pegiat budaya lainnya.
Dukungan serupa datang dari Among Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Andri. Ia akan berupaya untuk mendorong kegiatan serupa digelar berkala. “Bukan hanya kendang atau jaipong. Seni lain juga harus naik panggung. Gedung kesenian harus hidup dan jadi pusat aktivitas budaya,” ujarnya.
Malam itu Gaung Kendang tidak sekadar membunyikan kulit dan kayu. Ia membunyikan kesadaran bahwa budaya adalah identitas. Di tangan 300 penabuh, warisan leluhur kembali berdenyut, siap diteruskan ke generasi berikutnya.***
