Rayakan Milad ke-48, MTsN 3 Kota Tasikmalaya Luncurkan Batik Khas dan Eskul Karawitan di Festival Budaya 8

Media Warga+62.My.Id – Semarak Milad ke-48 MTsN 3 Kota Tasikmalaya terasa istimewa tahun ini. Madrasah yang berlokasi di Nagarakasih,Kota Tasikmalaya itu menggelar Festival Budaya 8 di halaman kampus, Rabu 20 Mei 2026. Acara tersebut menjadi penanda penting jelang setengah abad kiprah MTsN 3 mencetak generasi berkarakter, berprestasi, dan berbudaya.

Festival tahunan ini diisi beragam lomba edukatif dan kreatif. Siswa-siswi unjuk bakat lewat lomba mewarnai, menghias payung geulis, kaligrafi, baca puisi, solo vokal, hingga desain poster. Tak sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi ruang tumbuhnya kecintaan pada seni dan budaya daerah sejak dini.

Momen yang paling ditunggu adalah peluncuran batik khas MTsN 3 Kota Tasikmalaya serta peresmian ekstrakurikuler karawitan. Dua terobosan ini menegaskan komitmen madrasah dalam merawat warisan budaya Sunda di tengah dunia pendidikan.

Kepala MTsN 3 Kota Tasikmalaya, Hj. Yiyin, S.Ag.,M.Pd.I., menjelaskan seragam batik eksklusif tersebut akan mulai dikenakan seluruh guru dan siswa pada Tahun Ajaran 2026/2027. Motif batik lahir dari kolaborasi guru dan siswa sebagai simbol identitas yang kaya makna.

“Desain batik ini merupakan karya kreatif Bapak Asep Rahmat, Ibu Esa Susanti, dan ananda Putri Mahasin siswa kelas VIII. Kami berharap batik ini menjadi kebanggaan bersama sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal,” tutur Hj. Yiyin.

Selain batik, eskul karawitan resmi dibuka. Kehadirannya diharapkan mengenalkan nilai tradisi kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya di tengah arus modernisasi yang kencang.

Prosesi peluncuran motif batik dilakukan langsung oleh Dicky Chandra bersama Gilman Mawardi. Keduanya mengapresiasi konsistensi MTsN 3 menjaga pendidikan berbasis nilai budaya selama hampir lima dekade.

Gilman Mawardi menyebut keberadaan madrasah ini sebagai heritage penting hasil perjuangan tokoh masyarakat Nagarakasih. Hingga kini, MTsN 3 terus berkontribusi melahirkan SDM unggul untuk daerah.

“Ini warisan berharga para tokoh Nagarakasih. Semangat, inovasi, dan nilai perjuangan mereka harus terus dilanjutkan demi kemajuan Nagarakasih dan Kota Tasikmalaya,” ucap Gilman.

Secara historis, lembaga ini berawal dari MTs Mathla’ul Hikmah. Setelah dinegerikan, namanya berubah menjadi MTsN Nagarakasih, dan kini dikenal sebagai MTsN 3 Kota Tasikmalaya.

Dicky Chandra turut mengapresiasi inovasi madrasah yang tak meninggalkan budaya lokal. Menurutnya, generasi muda perlu terbuka pada nilai positif budaya luar, namun tetap menjaga identitas sendiri.

“Generasi bangsa tidak perlu menolak nilai positif dari budaya luar, tetapi jangan sampai melupakan akar budayanya sendiri, termasuk budaya ngamumule alam. Saya sangat mendukung komitmen MTsN 3 mengajarkan etika, budaya, dan kreativitas sebagai pondasi terbaik bagi generasi penerus bangsa,” katanya.

Festival Budaya 8 pun ditutup dengan penampilan perdana eskul karawitan dan peragaan busana batik khas MTsN 3. Sorak tepuk tangan siswa, guru, dan tamu undangan mengiringi langkah madrasah menuju usia emas. Dengan batik sebagai identitas dan karawitan sebagai napas tradisi, MTsN 3 Kota Tasikmalaya menegaskan diri: berinovasi tanpa kehilangan jati diri.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama