Media Warga+62.My.Id – Ruang kelas SMK Negeri 4 Kota Tasikmalaya mendadak berubah jadi kawah candradimuka bagi calon pengusaha muda. Puluhan siswa tampak antusias menyimak jurus memulai bisnis agar bisa langsung jadi "bos" begitu lulus sekolah.
Suasana itu tercipta dalam Pekan Nasional PNM Mengajar bertajuk "Berkelana: Belajar Kewirausahaan, Literasi Kesehatan & Dampak Keberlanjutan". PT Permodalan Nasional Madani Cabang Tasikmalaya hadir memberi pembekalan langsung kepada siswa, sekaligus sebagai kado menyambut HUT ke-27 PNM pada 1 Juni 2026.
Manajer Human Capital PNM Cabang Tasikmalaya, Sandy Robi, menjelaskan program ini digelar serentak di 58 SMK se-Indonesia dengan total 2.700 peserta. SMKN 4 Tasikmalaya dipilih karena dinilai siap secara fasilitas untuk menyelenggarakan kegiatan skala nasional.
“PNM Mengajar hadir sebagai intervensi nyata agar siswa lebih mengenal dunia usaha. Kami ingin membuka akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas,” kata Sandy.
Menurutnya, tujuan utama pelatihan adalah mengubah pola pikir generasi Z menghadapi dunia kerja yang makin kompetitif. Siswa tidak hanya diajari teori, tapi didorong berani merintis usaha sendiri.
“Kami memberikan wawasan wirausaha agar mereka mampu berkarya dan mewujudkan masa depan yang cerah. Kami berharap mereka nantinya menjadi bos, bukan sebagai pekerja,” tegasnya.
Tak sekadar bicara soal UMKM digital, materi juga menyentuh literasi kesehatan mental dan isu keberlanjutan. PNM ingin lulusan SMK punya soft skill, peduli lingkungan, dan tangguh secara mental. Harapannya, siswa yang sudah merintis usaha di sekolah bisa terhubung dengan ekosistem PNM setelah lulus.
Staf Bursa Kerja Khusus SMKN 4 Kota Tasikmalaya, Jajang Ruhimat, mengapresiasi langkah PNM. Ia menilai edukasi langsung dari praktisi sangat membuka wawasan siswa tentang dunia kerja nyata.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bermanfaat. Mereka jadi punya gambaran riil soal dunia kerja, tahu apa yang harus dipersiapkan, dan bagaimana cara menghadapi tantangan ke depan. Saya harap dengan kegiatan ini mereka jauh lebih siap,” ujar Jajang.
Tantangan lulusan SMK saat ini memang berat. Dunia industri tak lagi cukup mencari lulusan yang hanya mahir teknis. Talenta yang komunikatif, adaptif, dan bermental baja lebih dibutuhkan seiring lompatan teknologi dan kebutuhan pasar yang dinamis.
Karena itu, sinergi sekolah dan industri seperti yang dilakukan PNM menjadi krusial. Program ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar langsung dari pelaku usaha, memahami tren pasar, sekaligus menanamkan kesadaran keberlanjutan sejak dini.
Dengan bekal mindset wirausaha, literasi mental, dan semangat keberlanjutan, generasi muda Tasikmalaya diharapkan tak sekadar siap kerja, tapi siap menciptakan lapangan kerja. Dari ruang kelas SMKN 4, lahir harapan baru, mencetak pemilik usaha, bukan pencari kerja.***
