Media Warga+62.My.id – Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) resmi menggandeng Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi untuk memperkuat penelitian dan kajian ilmiah sejarah budaya di Kota Santri.
Penandatanganan kerja sama ini digelar Kamis,(21 Mei 2026) di Auditorium Gedung Muhammad Nu’man Somantri, Jl. Siliwangi, Kota Tasikmalaya.
Langkah kolaboratif tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Dekan 1 FKIP Unsil Dr. Diana Hernawati, S.Pd.,M.Pd. dan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, Pariwisata Kota Tasikmalaya Dr. Deddy Mulyana, S.STP.,M.Si. Momen ini menandai sinergi baru antara akademisi dan praktisi kebudayaan dalam merawat ingatan kolektif serta identitas daerah.
Fokus kerja sama meliputi riset sejarah lokal, dokumentasi kebudayaan, pengarsipan tradisi masyarakat, hingga publikasi ilmiah terkait dinamika budaya Tasikmalaya. Kedua lembaga berharap hasil kajian tak hanya bernilai akademis, tetapi juga menjadi rujukan publik dan pijakan kebijakan pemerintah daerah.
Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsil, Zulpi Miftahudin,S.Pd., M.Pd., menegaskan sejarah lokal tidak boleh berhenti sebagai cerita lisan yang tergerus waktu.
Menurutnya, Tasikmalaya menyimpan kekayaan tradisi, seni, dan jejak peradaban yang perlu diteliti serius agar bisa diwariskan ke generasi mendatang.
“Kita berharap hasil penelitian nantinya dapat memperkuat literasi sejarah masyarakat sekaligus menjadi bahan edukasi kebudayaan bagi generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DKKT Tatang Suprihatna Sumpena,S.Sn yang akrab disapa Tatang Pahat menilai kolaborasi ini sebagai ikhtiar bersama menjaga denyut kebudayaan lokal di tengah gempuran modernisasi.
“Kerja sama ini menjadi ruang pertemuan antara akademisi dan pelaku kebudayaan. Sejarah bukan hanya soal masa lalu, tetapi cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri,” ucapnya.
Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsil sendiri dikenal aktif mengembangkan kajian sejarah lokal dan publikasi akademik berbasis budaya daerah. Kolaborasi ini menjadi bagian dari penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ke depan, DKKT dan Unsil telah menyiapkan sejumlah agenda lanjutan. Mulai dari seminar sejarah budaya, penelitian bersama, diskusi publik, penerbitan buku, hingga digitalisasi arsip sejarah Kota Tasikmalaya. Semua diarahkan agar jejak peradaban kota tidak hilang ditelan zaman.
Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya Dr. Deddy Mulyana menyambut baik kerja sama ini. Ia menyebut pemerintah daerah membutuhkan basis data sejarah yang kuat sebagai fondasi kebijakan kebudayaan dan pariwisata.
“Kota tidak hanya dibangun dengan infrastruktur fisik. Ingatan, nilai, dan kebudayaan juga harus dirawat. Ini investasi jangka panjang,” kata Deddy.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, kolaborasi DKKT dan Unsil menjadi pengingat bahwa membangun kota tak cukup dengan gedung dan jalan raya. Ada akar budaya yang harus dijaga agar tidak tercerabut dari tanahnya sendiri.
Tasikmalaya, dengan segala jejak sejarahnya, kini menata langkah agar generasi mendatang tetap mengenal jati diri daerahnya.***
