Media Warga+62.My.id – Kehadiran satuan baru TNI AD di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, langsung memberi warna berbeda. Baru dua bulan lebih bertugas, Batalyon Infanteri Teritorial dan Pembangunan (Yonif TP) 939/Macan Putih sudah mengubah wajah lahan tidur di kawasan perkantoran Pemkab menjadi pusat produktivitas.
Lahan seluas lebih dari 3 hektar yang dulu dipenuhi semak belukar kini tertata rapi. Di atasnya berdiri 25 tenda pleton yang dihuni 546 personel. Namun mereka tak sekadar siaga. Di bawah terik matahari Singaparna, para prajurit setiap hari berjibaku mengolah tanah berbatu menjadi area pertanian, peternakan, dan perikanan.
Nama Macan Putih diambil dari hewan legendaris Jawa Barat yang menjadi simbol kesetiaan kepada raja-raja Padjajaran, nama itu menjadi cermin karakter satuan, berwibawa dan melindungi wilayahnya.
Wakil Komandan Yonif TP 939/Macan Putih, Kapten Inf Edwin Wardianto, S.Tr.(Han), menjelaskan makna di balik nama tersebut. “Yonif TP 939/Macan Putih adalah satuan yang memiliki kekuatan dan keberanian untuk menjaga keamanan wilayah sekaligus kesejahteraan masyarakat demi keutuhan NKRI,” ujarnya, Senin (13/04/2026).
Dibentuk di era Presiden Prabowo Subianto, Yonif TP 939 mengusung misi ganda. Prajuritnya dilatih menguasai senjata dan strategi perang, sekaligus dididik menjadi tenaga ahli agrikultur.
Berbeda dari batalyon infanteri konvensional, Yonif TP 939 memiliki 9 kompi dengan spesialisasi berbeda. Lima Kompi Senapan fokus pada pertahanan dan keamanan. Empat Kompi Bantuan terdiri dari Kompi Kesehatan, Kompi Zeni, Kompi Peternakan, dan Kompi Pertanian. Struktur ini membuat mereka lincah bergerak di dua medan, yaitu medan laga dan lahan garapan.
Langkah nyata Macan Putih juga terlihat dari pembersihan lahan-lahan tidur di pusat pemerintahan. Salah satunya revitalisasi kawasan Danau di kawasan Pendopo Kabupaten Tasikmalaya yang kini digarap secara bertahap.
Untuk memperkuat kapasitas, Yonif TP/ 939 menggandeng Pemkab Tasikmalaya. Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Ketahanan Pangan memberi pendampingan teknis budidaya. Dinas Kesehatan diajak bersinergi dalam layanan kesehatan masyarakat. Bahkan urusan logistik dikelola kreatif. Dapur umum batalyon memanfaatkan bangunan di tepi Sungai Ciwulan yang sebelumnya jadi lokasi wisata. Operasional pasukan tetap jalan, selaras dengan lingkungan sekitar.
Kapten Edwin menegaskan, pihaknya menyiapkan prajurit yang siap tempur secara fisik dan mental, sekaligus menjadi penggerak ekonomi rakyat.
“Kita siapkan prajurit untuk membantu ketahanan pangan di wilayah sekitar agar masyarakat bisa merasakan manfaat langsung dari kehadiran kami,” kata Edwin.
Kehadiran Macan Putih di Tasikmalaya menegaskan peran TNI hari ini, bukan hanya benteng pertahanan dari ancaman luar, tetapi juga garda depan melawan kerawanan pangan dan kemiskinan. Dari semak belukar menjadi lumbung pangan, dari tenda pleton menjadi pusat belajar, Macan Putih membuktikan bahwa menjaga NKRI juga berarti menghidupi rakyatnya.***
