Spanduk “Sekolah Sudah Berdiri, Jalan Mana?” Bermunculan, BJBI Desak Pemprov Jabar Tuntaskan Akses ke SMAN 11 Tasikmalaya

Media Warga+62.My.id – Gelombang dukungan agar akses jalan menuju SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya segera dibangun kian deras. Warga bersama Baraya Jawa Barat Istimewa (BJBI) turun tangan menyuarakan aspirasi lewat pemasangan spanduk di beberapa titik strategis Kota Tasikmalaya.  

Spanduk itu membawa pesan menohok: _“Dukung akses jalan untuk siswa SMA 11 Tasikmalaya demi keselamatan dan masa depan anak bangsa. Sekolah sudah berdiri, akses jalan mana? Hak pendidikan harus didukung infrastruktur.”_ Bagi warga, gedung sekolah tanpa jalan layak sama saja seperti ruang kelas tanpa pintu: ada, tapi sulit diakses.  

Pembina BJBI, Drs. Dedi Suryana, http://M.Pd, menegaskan aksi ini lahir dari kepedulian terhadap keselamatan siswa. Ia menyebut, desakan warga dan orang tua murid sebenarnya sudah lama disuarakan. Namun sampai hari ini, jalan representatif menuju SMAN 11 tak kunjung terealisasi.  

“Pemasangan spanduk ini adalah bentuk dukungan kami terhadap aspirasi masyarakat dan orang tua siswa agar segera tersedia akses jalan yang representatif ke SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya. Hal ini sangat penting demi keselamatan dan keamanan siswa,” kata Dedi.  

Ketua Umum BJBI, Burhan Sujani, menyoroti faktor waktu yang kian mepet. Tahun ajaran baru tinggal hitungan bulan, sementara siswa masih harus melintasi jalur yang jauh dari kata aman. Ia khawatir keterlambatan pembangunan jalan bakal mengganggu kegiatan belajar sekaligus membahayakan anak-anak.  

“Aksi ini kami lakukan agar pemerintah segera bergerak cepat. Tahun ajaran baru sudah sangat dekat, jangan sampai akses jalan belum juga terealisasi,” tegas Burhan.  

BJBI meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak menunda langkah konkret. Dua pekerjaan rumah yang disorot: percepatan pembebasan lahan dan pencairan anggaran yang disebut sudah masuk dalam perencanaan. Burhan mengingatkan, mayoritas peserta didik SMAN 11 merupakan warga Kota Tasikmalaya yang setiap hari bertaruh nyawa di jalan.  

“Kami berharap ada langkah cepat dalam jangka pendek, dan untuk jangka panjang maksimal dalam waktu satu tahun akses jalan ini sudah benar-benar terwujud,” ujarnya.  

Bagi masyarakat, infrastruktur pendidikan tak berhenti pada bangunan megah. Aksesibilitas adalah bagian tak terpisahkan dari hak atas pendidikan yang aman. Jalan yang layak membuat siswa berangkat-pulang tanpa cemas, orang tua lebih tenang, dan proses belajar mengajar tidak terganggu.  

Aksi spanduk ini menjadi penanda kuatnya sinergi warga dan elemen sipil mendorong kebijakan publik. Kini publik menunggu jawaban: langkah nyata dari pemerintah, bukan sekadar komitmen di atas kertas, agar SMAN 11 Tasikmalaya benar-benar jadi sekolah yang ramah bagi masa depan anak bangsa.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama