Media Warga+62.My.id - Ruang Aula SMKN 1 Tasikmalaya, Jl. Cigeureung, Kota Tasikmalaya berubah menjadi kelas terbuka soal obat dan herbal, Rabu (15/04/2026). Komix Herbal menggelar program Goes to School bertajuk "Generasi Sehat, Generasi Herbal: Saatnya Gen Z Mengenal Herbal". Puluhan siswa mengikuti kegiatan dengan antusias sejak pagi.
Perwakilan Komix Herbal menjelaskan, program ini lahir dari keprihatinan atas minimnya literasi obat di kalangan remaja. Gen Z akrab dengan informasi instan, namun belum tentu paham cara menggunakan obat secara benar.
" Melalui Goes to School, Komix Herbal ingin memastikan generasi muda mampu membedakan manfaat dan risiko, terutama pada obat batuk herbal yang kerap dikonsumsi bebas" ujarnya.
Empat narasumber dihadirkan untuk memberi perspektif lengkap. BNN Kota Tasikmalaya membahas bahaya penyalahgunaan obat batuk. BPOM menjelaskan pentingnya izin edar, cara membaca kemasan, dan mengenali produk legal. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) mengupas dosis, aturan pakai, hingga interaksi obat. Perwakilan media membedah peran informasi dan hoaks kesehatan di media sosial.
Dalam sesi materi, siswa diajak memahami fungsi Komix Herbal. Produk ini digunakan untuk meredakan batuk dan harus dikonsumsi sesuai dosis yang tercantum.
“Herbal tetap obat. Ada aturan pakai, ada takaran, ada batasnya. Kalau diminum berlebihan atau dicampur zat lain, efeknya bisa berbeda dan berbahaya,” tegas apoteker dari IAI di hadapan siswa.
BNN Kota Tasikmalaya menyoroti tren penyalahgunaan obat batuk oleh sebagian remaja. Modus yang sering terjadi adalah mengonsumsi di luar dosis untuk mencari efek tertentu. Karena itu, pelajar diminta kritis dan tidak mudah terpengaruh ajakan teman atau konten menyesatkan.
“Jangan coba-coba. Sekali salah pakai, dampaknya panjang. Kesehatan dan masa depan taruhannya,” kata perwakilan BNN.
BPOM mengingatkan tiga langkah sederhana sebelum minum obat, diantaranya cek kemasan, cek izin edar, cek kedaluwarsa. Siswa diajak praktik membaca label Komix Herbal langsung di lokasi. Mereka belajar mengenali nomor registrasi BPOM, komposisi, indikasi, dan peringatan. Cara ini dinilai efektif agar pengetahuan tidak berhenti di teori.
Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Beberapa siswa menanyakan perbedaan herbal dengan obat kimia, batas aman konsumsi harian, hingga mitos mencampur obat batuk dengan minuman bersoda. Narasumber menjawab lugas dan meluruskan informasi yang keliru. Pesan utama yang berulang: gunakan obat secara rasional.
Para narasumber sepakat menghimbau generasi muda agar tidak menyalahgunakan obat. Edukasi sejak sekolah diyakini menjadi benteng awal mencegah penyimpangan.
“Kalau sejak SMK sudah paham, nanti mereka bisa jadi agen informasi di keluarga dan lingkungan,” ujar salah satu pemateri.
Rangkaian Goes to School ini tidak berhenti di penyuluhan. Sehari sebelumnya, Selasa (14/04/2026), telah digelar seleksi Duta Herbal. Sebanyak 47 siswa mendaftar dan mengikuti tahap wawancara, tes pengetahuan obat, serta uji kampanye singkat. Dari jumlah itu dipilih 10 besar, terdiri dari 5 putra dan 5 putri.
Dua orang terbaik telah dinobatkan sebagai Duta Herbal SMKN 1 Tasikmalaya 2026, Yaitu Muhamad Rido dan Azka Fairuzakia. Tugas mereka adalah mengampanyekan penggunaan obat dan herbal yang bijak di sekolah lewat mading, media sosial sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler.
“Duta Herbal harus jadi contoh. Tahu isi kemasan, paham dosis, berani mengingatkan teman,” jelas panitia.
Kepala SMKN 1 Tasikmalaya, Junjun Nugraha. S.Pd, M.M, mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kolaborasi industri, regulator, dan sekolah membuat edukasi kesehatan lebih kontekstual. Siswa tidak hanya diajar larangan, tapi dibekali alasan dan cara memilih.
Komix Herbal Goes to School di Tasikmalaya menjadi kota ke-7 yang disinggahi tahun ini. Program ini menyasar sekolah kejuruan karena siswanya dekat dengan dunia kerja dan cepat menyebarkan informasi ke masyarakat.
Dengan pemahaman yang benar, Gen Z diharapkan tumbuh sebagai generasi yang sehat sekaligus cerdas menggunakan obat. Karena sehat tidak cukup. Harus tahu caranya, paham batasnya, dan berani bilang tidak pada penyalahgunaan.***

