UPTD PPA Tasikmalaya Masifkan Edukasi Anti-Kekerasan di Sekolah, Ajak Siswa Jadi Duta Pencegahan


Media Warga+62.My.Id – Upaya menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tasikmalaya terus digencarkan. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tasikmalaya memilih jalur edukasi langsung ke sekolah sebagai langkah preventif, dengan menyasar siswa SMP untuk membangun kesadaran sejak dini.

Setelah sebelumnya hadir di SMPN 5 Tasikmalaya, Senin pekan lalu, giliran SMPN 17 Tasikmalaya yang disambangi Kepala UPTD PPA Kota Tasikmalaya, Epi Mulyana, S.H., M.H., Senin (06/04/2026). Kegiatan berlangsung di sela upacara bendera yang digelar di lapangan sekolah.

Di hadapan ratusan siswa, Epi memaparkan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kerap terjadi tanpa disadari. Ia menegaskan, kekerasan tidak sebatas kontak fisik seperti memukul atau menampar. 

“Kata-kata yang merendahkan, ejekan berulang, hingga menyebarkan foto pribadi tanpa izin juga termasuk kekerasan. Kalian harus paham batasannya,” tegas Epi.

Selain materi kekerasan, Epi juga menyelipkan pesan khusus soal maraknya tawuran antar pelajar. Menurutnya, menyelesaikan masalah dengan kekerasan justru merugikan banyak pihak, mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga nama baik sekolah. 

Ia menekankan bahwa benteng pertama pencegahan kekerasan adalah ketahanan keluarga. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak disebut sebagai kunci agar persoalan tidak berujung pada tindakan menyimpang. “Kalau ada masalah di sekolah atau di rumah, bicara. Jangan dipendam sendiri. Jangan dilampiaskan lewat tawuran atau menyakiti teman,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Epi mendorong siswa untuk tidak diam ketika melihat, mendengar, apalagi mengalami tindak kekerasan. Ia menjamin UPTD PPA Kota Tasikmalaya menyediakan saluran pengaduan yang aman dan menjunjung tinggi kerahasiaan pelapor. 

“Jangan takut. Negara hadir lewat UPTD PPA. Kalian bisa lapor ke guru BK, langsung ke kami, atau lewat layanan pengaduan. Satu laporan kalian bisa menyelamatkan teman,” kata Epi.

Siswa SMPN 17 tidak hanya diposisikan sebagai peserta. Mereka diajak menjadi “duta pencegahan kekerasan” di lingkungannya. Epi berharap pesan anti-kekerasan bisa disebarkan ke teman sebaya, keluarga, hingga warga sekitar. 

“Jadilah agen perubahan. Mulai dari yang kecil: berhenti membully, saling menghargai, dan berani menegur kalau ada yang salah,” pesannya.

Kepala SMPN 17 Tasikmalaya mengapresiasi langkah UPTD PPA. Menurutnya, penyampaian materi langsung dari lembaga yang menangani kasus di lapangan membuat siswa lebih mudah memahami isu kekerasan. “Kami berterima kasih ke UPTD PPA. Anak-anak jadi tahu ke mana harus melapor dan sadar bahwa kekerasan tidak bisa ditoleransi,” ucapnya.

Program pembinaan ke sekolah ini akan terus diperluas. UPTD PPA Kota Tasikmalaya juga memperkuat sinergi dengan Dinas Pendidikan, guru BK, dan forum anak guna membangun sistem perlindungan berlapis di lingkungan pendidikan. 

Epi menegaskan, memutus rantai kekerasan harus dimulai dari hulu, salah satunya melalui edukasi di sekolah. Dengan pemahaman yang benar sejak dini, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang menghormati sesama dan berani menolak kekerasan. 

“Kalau anak-anak kita paham sejak awal, mereka akan tumbuh jadi generasi yang menghargai orang lain dan berani melawan kekerasan,” pungkas Epi.

Langkah jemput bola ke sekolah ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot Tasikmalaya mewujudkan kota yang ramah anak dan perempuan, sekaligus menanamkan budaya tanpa kekerasan sejak bangku SMP.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama