Media Warga+62.My.Id – Upaya penanggulangan HIV Aids di Kota Tasikmalaya menunjukkan hasil positif. Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV Aids (KPA) Kota Tasikmalaya, Tarlan, menyebut kasus penularan mengalami penurunan signifikan selama dua tahun terakhir.
"Alhamdulillah di tahun 2025 kasus HIV Aids mengalami penurunan sekitar 15 persen. Ini tentu berkat kerja keras semua pihak," kata Tarlan saat dikonfirmasi, Senin (06/04/2026).
Berdasarkan data KPA, sepanjang 2024 tercatat 169 kasus baru HIV Aids di Kota Tasikmalaya. Jumlah itu turun menjadi 146 kasus pada 2025. Dengan selisih 23 kasus, penurunan yang terjadi mencapai 15 persen.
Tarlan menilai capaian tersebut tidak terlepas dari masifnya edukasi dan deteksi dini, serta kolaborasi solid antara KPA, Dinas Kesehatan, puskesmas, komunitas, dan lintas sektor lain. Sosialisasi bahaya HIV Aids terus diperluas ke sekolah, kampus, tempat kerja, hingga kelompok dengan risiko tinggi.
Meski tren tahunan membaik, Tarlan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Pasalnya, pada Januari–Maret 2026 sudah terdeteksi 19 kasus baru. “Ini pengingat bahwa HIV Aids masih ada di sekitar kita. Pencegahan tidak boleh kendur,” tegasnya.
Hasil pemetaan KPA menunjukkan pola penularan di Tasikmalaya saat ini masih didominasi Lelaki Seks dengan Laki-laki (LSL). Dua wilayah, Kecamatan Tawang dan Cihideung, juga tercatat memiliki angka penularan yang relatif tinggi dibanding kecamatan lain.
“Kami memperkuat intervensi di dua kecamatan itu lewat layanan tes sukarela, pendampingan komunitas, dan kampanye pencegahan,” jelas Tarlan.
Ia menegaskan, HIV Aids memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun orang dengan HIV (ODHA) tetap bisa hidup normal dan produktif dengan rutin mengonsumsi Antiretroviral (ARV) seumur hidup. ARV menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi, menurunkan risiko penularan, serta menjaga daya tahan tubuh.
“Kuncinya disiplin minum ARV, kontrol rutin ke layanan kesehatan, dan jangan putus obat. Dengan begitu kualitas hidup ODHA tetap terjaga,” tambahnya.
Tarlan juga mengingatkan empat jalur utama penularan HIV Aids yang perlu diwaspadai: hubungan seks berisiko tanpa pengaman, pemakaian jarum suntik bergantian, transfusi darah tidak aman, serta dari ibu ke bayi melalui persalinan atau Air Susu Ibu (ASI).
KPA Kota Tasikmalaya mendorong masyarakat, terutama yang merasa punya perilaku berisiko, untuk tidak ragu menjalani tes HIV. Layanan tes tersedia gratis di seluruh puskesmas dengan jaminan kerahasiaan.
Tarlan berharap tren penurunan ini konsisten hingga target,Three Zero 2030 tercapai: zero infeksi baru, zero kematian akibat AIDS, dan zero stigma terhadap ODHA.
“Ini butuh komitmen semua pihak. Hilangkan stigma. ODHA berhak hidup sehat dan diterima masyarakat,” pungkasnya.***
