Perajin Tahu di Tasikmalaya, H. Imin Bertahan di Tengah Harga Kedelai dan Plastik Melambung

Media Warga+62.My.id – Di saat tahu pabrikan membanjiri pasar, H. Imin tetap setia mengaduk kedelai di atas tungku kayu. Perajin tahu asal Babakan Karangkawitan, Kelurahan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya itu sudah merintis usaha sejak 2008. Selama 18 tahun, ia tak pernah meninggalkan satu prinsip, kualitas tidak boleh dikorbankan.  

Tahu Cibuntu buatan H. Imin mudah dikenali. Teksturnya lembut, rasanya gurih, dan warnanya kuning alami. “Dari dulu saya hanya pakai kunyit. Lebih aman, dan rasanya beda. Pelanggan sudah tahu,” ujarnya saat ditemui di rumah produksi, Selasa (14/04/2026).  

Kunyit bukan sekadar pewarna. Bagi H. Imin, rempah itu memberi aroma khas dan dipercaya lebih sehat dibanding pewarna sintetis. Konsistensi itu yang membuat pelanggannya bertahan. Setiap subuh, pedagang dari Pasar Induk Cikurubuk, pedagang di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, hingga pedagang keliling sudah antre mengambil tahu kuning buatannya.  

Produksi H. Imin masih dijalankan secara tradisional. Setiap hari ia menghabiskan 1,5 hingga 2 kuintal kedelai. Prosesnya panjang: direndam, digiling, direbus, disaring, lalu dicetak. Semua dikerjakan bersama lima pekerja yang sudah belasan tahun setia membantunya.  

“Yang penting bersih. Airnya harus mengalir, tempatnya harus rapi. Kalau tidak begitu, tahu cepat asam,” kata H. Imin sambil menunjukkan lantai produksinya yang diguyur air mengalir.  

Yang membedakan H. Imin dari perajin lain adalah kepeduliannya pada lingkungan. Lima tahun terakhir, ia membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana di samping rumah produksi. Limbah cair tahu yang dikenal bau menyengat diolah dulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Ampas tahu pun tak jadi sampah. Setiap pagi peternak datang mengambilnya untuk pakan sapi.  

“Saya tidak mau usaha saya mengganggu tetangga. Air limbah disaring dulu, diendapkan. Jadi yang keluar sudah tidak bau,” tegasnya.  

Namun kesetiaan pada kualitas kini diuji harga bahan baku. Dua bulan terakhir, H. Imin kelimpungan karena harga kedelai impor terus naik. Jika sebelumnya Rp9.500 per kilogram, kini menembus Rp11.000 per kilogram. Padahal kedelai adalah urat nadi usahanya.  

“Kalau kedelai naik, modal langsung bengkak. Kita mau naikkan harga tahu, pelanggan protes. Tidak dinaikkan, kita yang tekor,” keluhnya.  

Beban bertambah karena harga plastik pembungkus ikut terkerek. Untuk tahu ukuran seperempat dan setengah kilogram, ia butuh plastik yang sudah disablon nama. “Dulu satu bal plastik Rp700 ribu, sekarang nyampak satu juta. Semuanya naik, tapi harga tahu tidak bisa ikut seenaknya,” imbuhnya.  

Saat ini tahu kuning H. Imin dijual Rp7.000 per bungkus isi 10 potong di tingkat pengecer. Harga itu sudah ia tahan selama tiga bulan meski margin makin tipis. Untuk menyiasati, ia sesekali mengurangi produksi. Jika biasanya menggiling 2 kuintal kedelai, kini cukup 1,5 kuintal per hari.  

Meski terhimpit, ia menolak menurunkan mutu. Kunyit tetap dipakai, kebersihan dijaga, IPAL terus dioperasikan. “Kalau kualitas diturunkan, pelanggan lari. Lebih baik untung tipis tapi jalan terus,” kata H. Imin.  

Ia berharap pemerintah turun tangan membantu perajin tahu skala rumah tangga. Stabilisasi harga kedelai atau akses ke kedelai lokal dengan harga terjangkau jadi harapan utama. Selain itu, pendampingan untuk mendapatkan kemasan alternatif yang murah dan higienis juga dinanti.  

Dari tungku kayu di Mangkubumi, H. Imin membuktikan usaha tradisional bisa berumur panjang asal konsisten dan adaptif. Ia tidak sekadar mencetak tahu. Ia merawat kepercayaan pelanggan, menjaga lingkungan, dan mempertahankan rasa yang sejak 2008 tak berubah: kuning dari kunyit, gurih dari kedelai pilihan, bersih dari tangan yang telaten.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama