Media Warga+62.My.Id – Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama OPD lintas sektoral, termasuk PSDA dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), menggelar aksi bersih-bersih di seputaran Tugu Asmaulhusna, Garawangi, Kota Tasikmalaya, Kamis (09/04/2026).
Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah cepat mengantisipasi genangan air dan banjir di tengah cuaca ekstrem yang belakangan melanda wilayah Kota Tasikmalaya. Intensitas hujan tinggi dalam durasi singkat membuat sejumlah titik rawan tergenang.
Aksi diawali dengan pembersihan saluran irigasi yang diindikasi mengalami penyumbatan sampah. Saluran yang mampet itu diduga menjadi penyebab utama luapan air ke badan jalan setiap kali hujan deras turun.
Petugas kebersihan DLH bersama personel BPBD Kota Tasikmalaya turun langsung ke dalam saluran. Tanpa ragu, mereka mengangkat tumpukan sampah yang menutup aliran air. Sampah terlihat menggunung di dalam gorong-gorong, mulai dari plastik, sterofoam, hingga ranting pohon yang saling menyangkut.
Kepala Bidang Penanganan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, menjelaskan pembersihan saluran ini merupakan upaya mitigasi jangka pendek untuk mengurangi dampak banjir saat hujan tiba.
“Kegiatan membersihkan saluran ini dilaksanakan dalam upaya mengurangi dampak banjir saat hujan tiba. Kalau salurannya lancar, air tidak meluap ke jalan dan permukiman,” ujar Feri di lokasi kegiatan.
Ia menambahkan, aksi serupa tidak hanya dilakukan di Garawangi. Tim gabungan juga menyasar sejumlah titik rawan lain seperti wilayah Purbaratu dan Sukanagara yang kerap menjadi langganan genangan.
Dari hasil pengecekan di lapangan, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sterofoam bekas kemasan makanan, plastik, dan ranting pohon.
Sampah-sampah ringan itu mudah terbawa arus lalu menyangkut di penyempitan saluran atau di bawah jembatan, hingga akhirnya membentuk sumbatan.
“Setelah dilakukan pengecekan, jenis sampah yang ditemukan berupa sterofoam dan ranting pohon yang menyangkut di saluran. Ini yang membuat air tidak bisa mengalir normal,” jelas Feri.
Feri mengimbau masyarakat untuk berhenti membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai atau selokan. Kebiasaan itu, katanya, menjadi penyebab utama banjir yang selama ini dikeluhkan warga. Ia meminta warga mulai memilah sampah dari rumah tangga.
“Sampah organik bisa diolah jadi kompos atau eco enzyme. Yang anorganik dipilah untuk dijual ke bank sampah. Kalau semua rumah tangga mau memilah, volume sampah ke TPA berkurang dan saluran kita bersih,” ajaknya.
Selain DLH, kegiatan ini melibatkan Dinas PSDA, BBWS, BPBD, aparat kecamatan dan kelurahan, serta warga sekitar. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting karena penanganan banjir tidak bisa dibebankan ke satu instansi saja.
Camat terdekat yang ikut memantau kegiatan menyebut Tugu Asmaulhusna menjadi salah satu ikon kota yang sering tergenang. Luapan air di kawasan itu tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga membahayakan pengendara karena jalan menjadi licin.
Dengan dibersihkannya saluran, diharapkan aliran air dari hulu bisa langsung terbuang ke sungai tanpa hambatan. Pemkot juga berencana memasang saringan sampah di beberapa titik mulut saluran untuk mencegah sampah besar masuk ke gorong-gorong.
Ke depan, DLH akan menggencarkan edukasi ke sekolah dan kelompok masyarakat soal bahaya sampah bagi drainase. Penegakan aturan berupa sanksi bagi pembuang sampah sembarangan juga akan diperkuat.
“Kita kerja keras bersihkan saluran, tapi kalau warga masih buang sampah ke selokan, seminggu juga mampet lagi. Kuncinya ada di perubahan perilaku,” tegas Feri.
Aksi bersih-bersih di Tugu Asmaulhusna berakhir menjelang siang. Puluhan karung sampah berhasil diangkat dari saluran. Pemerintah berharap langkah ini mampu menekan risiko banjir sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama.***
