Media Warga+62.My.id – Kalimatnya sederhana, namun menggema kuat: “Cing eling…”. Dua kata dalam bahasa Sunda yang berarti “ingatlah” itu menjadi napas utama Pertemuan Gabungan Persit Kartika Chandra Kirana Jajaran Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya Koorcab Rem 062 PD III/Siliwangi, Jumat (24/04/2026).
Agenda rutin organisasi ini terasa berbeda. Bukan sekadar kumpul, tapi berubah jadi ruang refleksi. Para istri prajurit tak hanya hadir, tapi saling menguatkan, mengingatkan, dan menata ulang arah kehidupan.
Sejak pagi, suasana sudah hidup. Anggota Persit diajak melihat sekaligus membeli produk UMKM karya sesama anggota. Produk berizin itu jadi simbol kemandirian dan semangat berkarya dari lingkungan sendiri. Ada kerajinan tangan, kuliner, hingga fesyen yang dipajang rapi di aula.
Kehadiran Pembina Persit, Dandim 0612/Tasikmalaya Letkol Czi M. Imvan Ibrahim, http://S.Sos., http://M.Han., bersama Ketua Persit Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim, http://S.Sos., membawa energi hangat. Turut hadir Wakil Ketua Ny. Ai Wawan MN, Kasdim Mayor Czi Wawan MN, dan Pasipers Kapten Inf Sulaeman.
Ratusan anggota Persit dari staf Kodim hingga Koramil memenuhi ruangan. Foto bersama jadi simbol kuat: di balik tugas suami, ada barisan perempuan tangguh yang setia mendukung dalam diam.
Acara dibuka doa, menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne Persit. Namun inti kegiatan terasa saat pengarahan Pembina. Dengan gaya sederhana tapi menyentuh, Letkol Imvan mengajak para ibu “menghitung kehidupan”. Bukan sekadar hari, tapi makna.
“Mengingat akhirat, menumbuhkan syukur, dan tetap optimis menjalani peran sebagai istri dan ibu,” pesannya.
Ia menitipkan bekal hidup: tetap fokus pada tujuan, cari rezeki halal, buang prasangka, dan jaga kepercayaan dengan husnudzon. Satu kalimat reflektif menguatkan suasana: “Benar belum tentu baik, dan baik belum tentu benar.” Pesan itu mengajarkan kebijaksanaan, bukan pembenaran.
Dandim juga mengingatkan pentingnya menjaga nama baik suami dan satuan, tetap rendah hati, serta menjadikan doa sebagai kekuatan. Usai memberi arahan, ia pamit karena agenda lain. Namun pesannya menetap.
Tongkat dilanjutkan Ketua Persit Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim. Ia mengajak anggota kembali pada jati diri lewat nilai Suluh Persit: suci, setia, sepi ing pamrih, rame ing gawe, ikhlas, rela, bijaksana, cendekia, berani, dan bertanggung jawab.
Etika berorganisasi jadi sorotan. Menghargai sesama, membiasakan senyum dan sapa, serta menjaga hubungan sosial yang sehat. Di keluarga, Ny. Rima menekankan support system. “Masalah tidak harus dipendam sendiri. Komunikasi adalah kunci,” ujarnya.
Di era digital, pesannya relevan: bijak bermedia sosial, manfaatkan peluang usaha, jauhi pinjol dan judi online. Dan lagi-lagi terdengar: “Cing eling… cing eling…”. Pengingat agar sadar, waspada, dan tak terlena keadaan.
Sebelum tutup, satu pertanyaan menggugah dilontarkan: “Sudahkah ibu-ibu bersyukur hari ini?” Karena kekuatan perempuan bukan pada apa yang dimiliki, tapi cara memaknai hidup.
Kegiatan makin lengkap dengan sosialisasi dari Pegadaian, Bank BWS, dan Amitra Travel yang membuka wawasan ekonomi. Kreativitas anggota tampil lewat kerajinan tangan, hiburan, doorprize, dan cinderamata.
Acara ditutup Mars Persit dan doa bersama. Hari itu, “Cing eling” bukan sekadar kata. Ia hidup sebagai pengingat: di setiap langkah ada nilai yang dijaga, keluarga yang diperjuangkan, dan doa yang tak boleh terlewat.***

