Media Warga+62.My.id - Nama Ki Sanca Wulung Galunggung masuk dalam daftar penerima Galunggung Award 2026. Penghargaan bergengsi dari Majelis Adat Sunda Jawa Barat itu diserahkan langsung oleh Jenderal Erwin dalam Upacara Tradisi Tahunan Kemerdekaan RI ke-81 di kawasan Geopark Batu Ampar, Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, (18/08/2026).
Ki Sanca Wulung menjadi salah satu dari 50 tokoh yang dianugerahi tahun ini. Penerima lainnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari budayawan, aktivis budaya, tokoh masyarakat, hingga pejabat publik se-Jawa Barat.
Berbeda dari upacara peringatan biasanya, kegiatan tahun ini dikemas kental adat Sunda. Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra Negara.
Ratusan peserta dari komunitas pegiat budaya se-Bumi Pasundan hadir mengenakan pakaian adat. Sejumlah pejabat pemerintah juga tampak hadir dan larut dalam suasana tradisi yang sakral di kaki Gunung Galunggung.
Usai menerima penghargaan, Ki Sanca Wulung menyampaikan rasa syukur. Ia menilai penganugerahan ini bukan hanya untuk dirinya pribadi.
“Saya ucapkan terima kasih. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk seluruh masyarakat budaya yang selama ini konsisten menjaga dan melestarikan warisan leluhur,” ujarnya.
Ki Sanca berharap penghargaan ini bisa menjadi pemantik semangat. Menurutnya masih banyak sejarah dan nilai budaya Sunda yang perlu digali agar dikenal luas, terutama oleh generasi muda.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Anak muda harus tahu akar budayanya supaya punya jati diri,” katanya.
Saat ini Ki Sanca juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Adat Sunda (Datsun) Kota Tasikmalaya. Dengan posisi itu, ia berkomitmen mendorong kegiatan pelestarian budaya lebih masif di tingkat kota.
Ketua Majelis Adat Sunda Jawa Barat, Anton Charliyan, menjelaskan filosofi pelaksanaan upacara pada tanggal 18 Agustus. Secara sejarah, upacara peringatan HUT RI pertama kali dilakukan sehari setelah proklamasi.
“17 Agustus pembacaan teks proklamasi di Jakarta. Lalu upacara pertamanya dilaksanakan tanggal 18 Agustus di Manonjaya, Tasikmalaya,” ungkap Abah Anton.
Ia menyebut tradisi ini dihidupkan kembali untuk mengingatkan bahwa Tasikmalaya memiliki jejak penting dalam sejarah awal kemerdekaan.
Pemberian Galunggung Award sendiri merujuk pada amanat Galunggung yang dikenal sebagai Adiyasa Adianugrah. Amanat itu telah lama menjadi pegangan para tokoh adat untuk menghargai jasa mereka yang menjaga budaya.
Dalam sambutannya, Anton menitipkan pesan. Menurutnya bangsa yang maju tidak akan meninggalkan budayanya.
“Lihat Swiss, Finlandia, Inggris, Jerman. Mereka maju tapi tetap berwawasan budaya. Bangsa yang melupakan budayanya, pelan-pelan akan kehilangan arah,” tegasnya.
Ia berharap para penerima Galunggung Award 2026 dapat menjadi penggerak agar nilai-nilai Sunda terus hidup, mengakar, dan diwariskan kepada generasi penerus di tengah derasnya arus modernisasi.***

