Kepala Dinsos PPKBP3A Apresiasi Buku ‘METAMORFOSA’: Karya Penyintas Jadi Jalan Pulih dan Menguatkan


Media Warga+62.My.id - Trauma tidak harus mengakhiri mimpi. Itu pesan kuat yang dibawa buku antologi “METAMORFOSA” yang resmi diluncurkan pada 22 Agustus 2026. Buku ini lahir dari tulisan perempuan dan anak penyintas kekerasan di Kabupaten Tasikmalaya, dan didukung penuh oleh UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial PPKBP3A Kabupaten Tasikmalaya.

Kepala Dinas Sosial PPKBP3A Kabupaten Tasikmalaya, Dra. Hj. Wini, M.Si, memberikan apresiasi tinggi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, “METAMORFOSA” adalah bentuk pemulihan yang inovatif dan menyentuh.

“Kami mendorong penuh penciptaan karya ini bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Ini bukti nyata bahwa berkarya adalah bagian dari perjalanan hidup yang indah. Melalui tulisan, kita ingin menumbuhkan harapan baru bahwa masa depan hebat adalah hak semua orang tanpa kecuali,” ujar Dra. Hj. Wini, Jumat (28/08/2026).

Gerakan menulis ini diinisiasi para konselor UPTD PPA Kabupaten Tasikmalaya. Tujuannya sederhana: mengajak penyintas menuangkan pengalaman, pikiran, dan harapan ke dalam kata. Coretan-coretan itu diharapkan bisa saling menguatkan, agar para penulis dan pembacanya sama-sama menemukan jalan untuk bangkit dari masa lalu.

Buku “METAMORFOSA” ditulis secara kolaboratif oleh tim konselor dan para penyintas dengan latar belakang berbeda. Di antaranya:  Ari Awalu Romadon, S.Pd., C.Med Konselor UPTD PPA Kabupaten Tasikmalaya, asal Pangandaran.Ai Erika Sulistia,Mahasiswi Universitas Terbuka Jakarta, asal Karangnunggal, Tasikmalaya.Zainab,Nama pena, warga Singaparna yang kini bekerja sebagai ART di Jakarta.Siti Rahma Khoerunnisa,Mahasiswi UMTAS, asal Sariwangi, Tasikmalaya.

Setiap tulisan membawa cerita yang berbeda, tapi mengarah pada satu titik: transformasi. Dari keterpurukan menuju keberanian, dari diam menuju suara.

Kehadiran buku ini tidak hanya untuk para penyintas. “METAMORFOSA” juga membawa misi besar untuk publik: menumbuhkan solidaritas antar korban, memberikan dorongan hidup, dan mengedukasi masyarakat luas tentang pentingnya pencegahan kekerasan.

“Saling menghormati antarsesama adalah bukti nyata kita siap menyambut masa depan yang cerah. Buku ini mengingatkan bahwa setiap orang berhak didengar dan dilindungi,” kata salah satu tim penulis.

Melalui rilis ini, Dinas Sosial PPKBP3A Kabupaten Tasikmalaya bersama tim penulis berharap pesan moral dalam “METAMORFOSA” bisa menjangkau lebih luas. Harapannya, buku ini menjadi pengingat bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dengan sampul yang sederhana namun penuh makna, “METAMORFOSA” menegaskan satu hal: dari luka bisa lahir karya, dan dari karya bisa lahir harapan baru bagi Tasikmalaya.(Vhet)***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama