Diky Candra Apresiasi Respons ASN, Tegaskan Jangan Tunggu Sampai Marah


Media Warga+62.My.id- Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rf.Diky Candranegara, mengaku sedikit lega setelah jajaran Aparatur Sipil Negara mulai merespons sejumlah persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Salah satunya terkait polemik retribusi yang sempat memanas beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah teman-teman ASN sudah melakukan respon. Asda 2 dan Disperindag bisa berdialog dengan Hipatas, didampingi KH Miftah dan Ketua DPRD terkait retribusi. Perlahan tapi pasti, semoga lahir kesepakatan terbaik untuk kebaikan bersama,” ujar Diky Candra,  Rabu,(05/08/2026).

Dialog antara pemerintah dan Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya atau Hipatas itu dinilai menjadi langkah awal mencairkan ketegangan. Pemerintah berharap kesepakatan yang dihasilkan nantinya berpihak pada pedagang sekaligus tetap menjaga kepentingan pendapatan asli daerah.

Selain itu, Wakil Wali Kota juga menyoroti viralnya konten promosi negatif yang mengatasnamakan sejumlah hotel di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, Pemkot tidak tinggal diam dan sudah melakukan langkah tabayun, baik kepada pihak hotel maupun pelapor.

“Untuk kasus promo hoaks ke hotel-hotel, langkah-langkah tabayun sudah dilakukan. Bahkan Kadisporabudpar sudah mengundang para pengusaha hotel untuk diberikan edukasi agar lebih peka dan waspada ke depannya,” jelasnya.

Ia menekankan, promosi usaha harus tetap dilakukan secara bijak dan tidak melanggar norma. Terlebih Tasikmalaya dikenal sebagai Kota Santri, sehingga citra pariwisata dan dunia usaha harus dijaga bersama.

Diky  juga mengingatkan seluruh jajaran agar tidak menunggu ditegur baru bergerak. Ia meminta setiap laporan masyarakat segera direspons, terlepas dari kondisi fiskal daerah.

“Jangan nunggu saya marah. Yuk respon. Walau kondisi fiskal Tasik baik-baik saja atau banyak hal yang belum baik, tapi jangan jadi alasan kita melemah dalam kinerja,” tegasnya.

Diky memastikan Pemkot Tasikmalaya akan cepat menindaklanjuti berbagai laporan yang masuk dari masyarakat. Beberapa di antaranya terkait karaoke yang menyediakan miras, peredaran miras, aktivitas LGBT, permasalahan di Pasar Cikurubuk, hingga iklan hoaks hotel yang mengarah pada praktik pacaran.

“Semua laporan itu cepat kami tanggapi. Kami tidak ingin ada pembiaran. Kota ini milik kita bersama, jadi harus dijaga bersama,” pungkasnya.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama