Media Warga+62.My.id - Ikan lele yang selama ini identik dengan gorengan dan pepes, kini disulap jadi produk bernilai jual tinggi. Tim Pengabdian Masyarakat Poltekes Kemenkes Tasikmalaya bersama Puskesmas Bantar menggagas pelatihan "Pemberdayaan Kewirausahaan Produksi dan Pemasaran Abon Ikan Lele" untuk kader, alumni, dan mahasiswa.
Kegiatan berlangsung 2 hari, 3-4 Agustus 2026 di Aula Puskesmas Bantar. Program ini dipimpin Dede Gantini, SST, M.Keb, dengan anggota Sariestya Rismawati, SST, M.Keb dan Ima Karimah, MSi.
Jawab Stunting dengan Protein Lokal Terjangkau
Pilihan mengangkat abon lele bukan tanpa alasan. Wilayah kerja Puskesmas Bantar masih mencatat kasus balita stunting dan gizi kurang. Padahal dampak stunting tidak hanya pada tinggi badan, tapi juga pada kecerdasan, daya saing, dan produktivitas anak di masa depan.
Penyebab utamanya adalah minimnya konsumsi protein hewani, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, dari ibu hamil hingga anak 2 tahun.
"Kebutuhan protein secara umum sudah cukup, tapi porsi protein hewani masyarakat masih rendah. Kita perlu makanan lokal yang gampang didapat, murah, gizinya tinggi, dan disukai keluarga," kata Ketua Tim, Dede Gantini.
Lele dipilih karena melimpah di Tasikmalaya, budidayanya mudah, harganya ramah di kantong, dan kandungan proteinnya bagus. Selama ini olahannya masih itu-itu saja. Padahal jika diolah lebih kreatif, nilai ekonominya bisa naik berkali lipat.
Tim kemudian mengembangkan resep abon lele yang dicampur kacang merah dan wortel. Berdasarkan riset, kombinasi ini mampu mendongkrak protein dan zat gizi mikro. Proses pengeringan menjadi abon juga membuat produk lebih awet, praktis, dan siap saji.
"Dengan formulasi ini abon lele bisa jadi alternatif pangan bergizi untuk membantu mempercepat penurunan stunting di kota kita," jelas Dede.
Belajar Produksi Sekaligus Bisnis
Hari pertama pelatihan diisi praktik langsung membuat abon. Mendatangkan instruktur dari UMKM Rapekan, Desa Cisaruni, Kecamatan Padakembang, para peserta diajar mulai memilah bahan, mengukus, menyuwir, membumbui, menggoreng, sampai mengemas.
Total 15 orang ikut, terdiri dari kader PKK, alumni, dan mahasiswa. Suasana kelas terasa hidup karena semua peserta langsung terjun ke dapur.
Memasuki hari kedua, fokus beralih ke sisi usaha. Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya hadir sebagai narasumber. Materinya mulai dari cara menghitung modal, strategi jualan, desain kemasan, hingga pengurusan izin PIRT.
Kepala Puskesmas Bantar H. Tedy Setyadi, SKM., M.Si membuka acara secara resmi. Materi tentang bahaya stunting dan kandungan gizi lele juga disampaikan Penanggung Jawab Gizi Puskesmas, Ibu Lulu.
Menurut H.Tedy, abon bisa jadi alternatif pilihan menu pada pemberian makanan tambahan, " bisa di tabur ke bubur, ke nasi, dibuat roti gulung dan lainnya, sehingga variasi makanan tersebut bisa lebih disukai bayi balita dan anak-anak" ujarnya.
Dua Keuntungan Sekaligus: Ekonomi Naik, Gizi Terpenuhi
Program Pengembangan Kewirausahaan ini punya misi ganda. Pertama, membekali warga keterampilan membuat abon lele. Kedua, menumbuhkan semangat wirausaha agar muncul unit usaha baru di tingkat komunitas.
Dengan pendampingan berkelanjutan dan bantuan legalitas, tim optimis usaha abon lele Bantar bisa terus berjalan. Ke depan produk ini ditargetkan masuk ke kantin sekolah, posyandu, hingga jadi oleh-oleh khas Tasikmalaya.
"Kalau ini berhasil, kita dapat dua hal. Pendapatan warga bertambah dan anak-anak kita punya akses ke makanan tinggi protein untuk cegah stunting," tutup Dede.
Langkah Poltekes Kemenkes Tasikmalaya ini membuktikan, masalah kesehatan masyarakat bisa diselesaikan dengan cara kreatif. Mengubah bahan baku sederhana jadi produk unggulan, sekaligus menyiapkan generasi Tasikmalaya yang lebih sehat dan mandiri.***

