Diky Candra Apresiasi Film Dokumenter "Langit Tetap Sama" Karya Tunanetra, Bukti Keterbatasan Bukan Penghalang


Media Warga+62 My.id – Perkumpulan Pecinta Anak Disabilitas Tasikmalaya menggelar pemutaran film dokumenter berjudul Langit Tetap Sama, sebuah karya istimewa yang seluruh proses produksinya dikerjakan oleh penyandang tunanetra dari Yayasan Komunitas Sahabat Mata Semarang. Gedung Creative Center Dadaha, Kota Tasikmalaya, Minggu 14 Juni 2026, dipenuhi tepuk tangan haru.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, yang hadir langsung menyaksikan film bersama komunitas difabel, mengaku tersentuh.

“Ini bukti nyata. Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya. Mereka justru memberi kita pelajaran tentang keteguhan dan kemandirian,” ujarnya usai pemutaran.

Film berdurasi 45 menit itu mengangkat kisah perjuangan kaum difabel menembus batas. Mulai dari proses produksi, pengambilan gambar, hingga editing, semua dilakukan oleh tunanetra dengan pendampingan. Penonton dari kalangan difabel dan masyarakat umum tampak larut dalam cerita.

Ketua Panitia Pelaksana, Harniwan Obech, menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar nonton bareng. “Kami ingin tunjukkan bahwa disabilitas butuh ruang berkarya, bukan dikasihani. Film ini inspirasi,” tegasnya.

Harniwan menambahkan, acara ini juga dirangkaikan dengan penutupan program belajar menulis dan membaca Al-Qur’an Braille yang diikuti 30 peserta. Program tersebut mendapat dukungan Pemkot Tasikmalaya dan difasilitasi Komunitas Sahabat Mata.

“Sinergi pemerintah dan komunitas sangat penting untuk mendorong kemandirian teman-teman difabel,” kata Harniwan.

Ia pun mengapresiasi konsistensi Wakil Wali Kota Diky Candra yang selama ini aktif memotivasi dan membuka ruang bagi penyandang disabilitas.

“Pak Wakil selalu hadir, bukan hanya simbolis, tapi benar-benar memberi semangat,” imbuhnya.

Kekaguman serupa disampaikan Kepala SLBN Bungursari, Hj. Endang Rubiandini. Menurutnya, karya dari Semarang ini layak jadi pemantik semangat bagi siswa-siswinya.

“Saya bangga dan kagum. Anak-anak saya jadi tahu, kalau mereka mau, mereka pasti bisa. Ini motivasi luar biasa,” ucap Endang.

Pemutaran Langit Tetap Sama ditutup dengan diskusi interaktif antara pembuat film, penonton, dan pegiat inklusi. Banyak peserta difabel mengaku termotivasi untuk mulai menulis, membuat konten, hingga berkarya digital.

Harniwan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menular ke kota lain. “Semoga ini jadi bahan bakar. Bahwa langit tetap sama untuk semua. Yang membedakan hanya seberapa tinggi kita mau terbang,” tutupnya.

Dengan pesan kuat tentang inklusi dan kemandirian, film dokumenter Langit Tetap Sama berhasil membuktikan, bahwa di balik gelap, ada cahaya karya yang mampu menerangi banyak orang.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama