Media Warga+62.My.id – Graha Muhammadiyah di Jalan Tamansari, Mulayasari, Kota Tasikmalaya penuh sesak, Selasa 30 Juni 2026. Ratusan mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, guru BK, dan pelajar hadir dalam BK Fest 2026. Ajang ini menjadi puncak perayaan 10 tahun Program Studi BK UMTAS.
Ketua Panitia sekaligus Kaprodi BK UMTAS, Feida Nurlaila Istiada,M.Pd.Kons., menyebut kegiatan ini sengaja dibuat sebagai ruang kolaborasi. “Peserta total 200 orang, dari mahasiswa, alumni, siswa, sampai praktisi. Kami ingin BK Fest jadi wadah menguatkan layanan konseling agar relevan dengan tantangan masa kini,” ujarnya.
Acara berlangsung tiga tahap. Pembukaannya Senin 29 Juni 2026 lewat Expo dan Kompetisi Nasional. Di sini mahasiswa, guru BK, dan pelajar menampilkan karya: mulai buku saku konseling, modul interaktif, media edukasi, sampai kerajinan tangan yang bisa dipakai untuk ice breaking sesi BK.
Memasuki hari kedua, 30 Juni, digelar Seminar BK Fest 2026. Sorotannya tertuju pada isu kesehatan mental remaja yang makin mengemuka, mulai dari perilaku impulsif, kekerasan, hingga tekanan psikologis.
Rangkaian akan ditutup dengan Seminar Internasional pada 24 Juli 2026. Prodi BK UMTAS mengundang pemateri dari Universitas Malaysia. “Tujuannya membuka cakrawala peserta tentang praktik konseling di luar negeri dan tren layanan kesehatan mental global,” jelas Feida.
Salah satu pembicara, Dody Hartanto dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, menyoroti naiknya kasus gangguan kejiwaan. Ia menilai sejumlah peristiwa tragis akibat depresi menjadi sinyal kuat bahwa peran guru BK di sekolah dan kampus harus semakin kuat.
“Faktor pemicunya beragam. Ada tekanan ekonomi, dinamika keluarga, hingga era digital. Bullying di medsos, pinjaman online ilegal, sampai judi online bikin remaja lebih rentan,” papar Dody.
Ia mengajak siswa dan publik bijak berdigital. Menurutnya, konseling tidak hanya untuk kasus berat. “Konseling membantu orang memahami dirinya, mengatur emosi, dan mengambil keputusan yang lebih sehat,” katanya.
Momen spesial lain adalah peluncuran buku _Flourishing Oriented Counseling_ karya dosen BK UMTAS. Buku ini menawarkan pendekatan konseling yang fokus pada pertumbuhan dan makna hidup, bukan sekadar menyelesaikan masalah.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang menghidupkan makna sebagai pribadi. Konselor ke depan harus bisa mengantarkan siswa bukan hanya bertahan, tapi bertumbuh dan berdaya,” kata Feida.
Expo yang digelar bersamaan seminar juga jadi daya tarik. Mahasiswa menunjukkan bahwa layanan BK bisa dikemas kreatif dan tidak kaku. Produk-produk edukatif yang dipamerkan diharapkan bisa langsung dipakai guru BK di sekolah.
Para guru BK yang hadir mengaku mendapat suntikan semangat baru. Mereka bisa berbagi praktik baik, memperluas jejaring dengan alumni, dan berdiskusi langsung dengan akademisi. Siswa pun mendapat gambaran lebih nyata tentang profesi konselor.
Feida menegaskan Milad ke-10 ini menjadi titik balik. “Tantangan anak sekarang kompleks. Kalau BK masih konvensional, kita akan ketinggalan. Lewat BK Fest, kami berkomitmen melahirkan konselor yang adaptif, humanis, dan siap menjawab krisis mental era digital,” pungkasnya.***
