Kunjungi Tasikmalaya, Sultan Kacirebonan ke-9 Titip Pesan “Nitip Tajug dan Fakir Miskin”

Media Warga+62.My.Id – Suasana hangat menyelimuti Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Senin 1 Juni 2026. Pangeran Abdul Gani Natadiningrat S.E, Sultan Keraton Kacirebonan ke-9, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kabupaten Tasikmalaya. Rombongan Sultan disambut langsung oleh Bupati Tasikmalaya dan Plh. Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara.

Dalam agenda sehari penuh, Sultan Kacirebonan dijadwalkan mengunjungi empat titik. Rangkaian dimulai dari Pendopo untuk bertemu Bupati dan Plh. Wali Kota, dilanjutkan ke Gunung Galunggung, Kampung Naga, dan ditutup di Pamijahan.

Ketua Forum Ajengan Tajug, Munawir Soleh, mengungkapkan alasan khusus Sultan memilih Gunung Galunggung sebagai salah satu tujuan. “Beliau pernah bermalam di Galunggung sebelum peristiwa meletus. Ada ikatan batin dengan tempat ini,” ujarnya.

Tak sekadar napak tilas, Sultan Kacirebonan juga menitipkan pesan penting kepada pemimpin daerah. “Nitip Tajug dan fakir miskin,” kata Munawir menirukan pesan Sultan. Tajug, sebutan untuk musala atau tempat ibadah kecil di tatar Sunda, menjadi simbol pusat spiritual masyarakat. Sementara kepedulian pada fakir miskin adalah cerminan nilai kemanusiaan. Munawir berharap Bupati Tasikmalaya dapat melaksanakan amanat tersebut.

Di sela kunjungan, Sultan Kacirebonan juga bertemu dengan H. Endang Abdul Malik, tokoh masyarakat yang dikenal konsisten menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Lewat program Jumat Berkah, H. Endang rutin membagikan 1.500 paket sembako setiap pekan. Pertemuan itu menjadi penegas bahwa pesan “nitip fakir miskin” bukan sekadar wacana, melainkan ajakan untuk bergerak nyata.

Afan Sopandi, dari Forum Ajengan Tajug, menuturkan awal mula kunjungan ini. Tiga minggu lalu, ia bersama sejumlah ustaz Tajug bersilaturahmi ke Kesultanan Cirebon. Dalam pertemuan itu, Sultan menyampaikan keinginan untuk berkunjung ke Kampung Naga. “Keinginan beliau kami sampaikan ke Bupati Tasikmalaya, dan alhamdulillah direspon dengan sangat baik,” jelas Afan.

Kampung Naga dipilih bukan tanpa alasan. Permukiman adat yang masih memegang teguh tradisi Sunda itu dianggap sejalan dengan semangat pelestarian budaya yang diusung Kesultanan Cirebon. Kunjungan ini diharapkan memperkuat tali kekerabatan budaya antara Cirebon dan Tasikmalaya.

Plh. Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, menyambut positif kehadiran Sultan. Ia menilai silaturahmi ini momentum untuk merajut kembali sejarah yang berserak. Diky menyoroti perlunya pelurusan sejarah Tasikmalaya. “Perbedaan pandangan tentang sejarah dan budaya harus diselesaikan dengan bijak. Tujuannya agar anak cucu kita kelak mengenal sejarah Tasikmalaya yang sebenarnya,” tegasnya.

Menurut Diky, sejarah bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami. Dengan duduk bersama tokoh adat, budayawan, dan sejarawan, narasi sejarah bisa diluruskan tanpa mengorbankan kearifan lokal. “Kita butuh ruang dialog yang ma’ruf, bukan emosional,” tambahnya.

Kunjungan Sultan Kacirebonan ke-9 ini meninggalkan kesan mendalam. Selain mempererat hubungan Cirebon-Tasikmalaya, dua pesan utama yang dititipkan, menjaga Tajug sebagai pusat spiritual dan memperhatikan fakir miskin, menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tak hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal merawat nilai dan kemanusiaan.

Rombongan Kesultanan Cirebon melanjutkan perjalanan ke Galunggung dengan kawalan Forum Ajengan Tajug dan jajaran Pemkab. Di setiap titik, sambutan warga mengalir hangat. Sebuah tanda bahwa silaturahmi budaya masih menjadi perekat kuat di tengah zaman yang terus berubah.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama