Media Warga+62.My.id – Ribuan santri, alumni, dan tamu undangan memadati Pondok Pesantren Al Munawwar Jarnauzyyiah, Pasir Bokor, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Sabtu 27 Juni 2026. Mereka hadir dalam dua agenda besar: Haol Akbar Masyayikh Pasir Bokor 2026 dan peringatan Harlah ke-96 Ponpes Al Munawwar Jarnauzyyiah Pusat.
Suasana pesantren terasa khidmat sejak siang hari. Majelis zikir, pembacaan silsilah, dan doa untuk para masyayikh mengalun mengiringi acara yang dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim, S.H., Wakil Ketua DPRD H. Hilman Wiranata,S.Pd.I., serta tamu dari berbagai daerah.
Menelusuri Jejak KH Muhammad Jarnuzi, Pendiri Pasir Bokor
Dalam tausyiah dan pembacaan silsilah oleh KH Dadang Toha Muslim, terungkap sejarah panjang pesantren ini. Ponpes Pasir Bokor didirikan oleh KH Muhammad Jarnuzi yang lahir di Tasikmalaya pada 1875 dan wafat pada 1980. Beliau putra Mbah Madrai dan Ibu Mak Iyut.
KH Jarnuzi dikenal sebagai ulama wara dan zuhud. Setelah menuntut ilmu selama 35 tahun di pesantren-pesantren tua seperti Mama Kudang, Gunung Kawung, dan Gunung Puyuh Sukabumi, beliau kembali ke Tasikmalaya dan mendirikan pesantren Salafiyah. Kitab yang diajarkan meliputi ajaran tauhid, fiqih, mantik, hingga akhlak.
Masa kepemimpinan kemudian dilanjutkan kepada putranya, KH Anas Muhazir. Dari beliau, pesantren berkembang dan dikenal luas sebagai Al Munawwar Jarnauzyyiah dengan ciri khas pengajaran ilmu salafiyah. KH.Muhamad Jarnauzi menikah dengan Hj. Fatonah, memiliki putra H. Abas. Setelahnya menikah lagi dengan Ma Enju. Dari silsilah itu lahir Abah Entoh, KH Mustofa Karanganyar, KH Didi Darul Fadli, dan Hj. Komariah.
Teladan Kesederhanaan Sang Masyayikh
Alumni Ponpes Pasir Bokor, KH Yanyan Bustomi, mengingatkan jamaah agar meneladani akhlak Mama Pasir Bokor. “Beliau sederhana, tidak gengsi berguru meski gurunya lebih muda. Gemar menolong, zuhud, rajin ibadah. Itu warisan yang harus kita jaga,” ungkapnya.
Bagi para alumni, Haol bukan sekadar ziarah nama. Ia menjadi ruang muhasabah untuk kembali ke nilai pesantren: ilmu yang diamalkan, akhlak yang dijaga, dan pengabdian tanpa pamrih.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari majelis berkah itu. “Saya bangga Tasikmalaya memiliki para ulama jumhur yang ilmunya luas dan akhlaknya menjadi teladan. Ini kekayaan kota yang harus kita rawat,” ujarnya.
Diky berharap, Haol dan Harlah ini membawa keberkahan bagi Kota Tasikmalaya. “Semoga doa para masyayikh dan santri menjadi energi untuk kemajuan kota. Tasikmalaya butuh generasi yang cerdas, beradab, dan cinta tanah air,” katanya.
Ketua DPRD H. Aslim dan Wakil Ketua DPRD H. Hilman Wiranata juga menyampaikan apresiasi. Menurut mereka, peran pesantren dalam menjaga moral generasi muda sangat strategis, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
96 Tahun Menjaga Cahaya Ilmu
Harlah ke-96 menjadi penanda usia panjang Ponpes Al Munawwar Jarnauzyyiah dalam mencetak santri. Dari Pasir Bokor, ribuan alumni tersebar menjadi guru ngaji, kiai kampung, guru madrasah, hingga penggerak dakwah di berbagai wilayah. Tradisi mengaji, mengkaji kitab kuning, dan mengamalkan ilmu tetap dipertahankan.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk para pendiri, pengasuh, dan seluruh keluarga besar pesantren. Para santri dan alumni berbaur, saling bersalam-salaman, dan bernazar melanjutkan estafet kebaikan.
Bagi warga Cipawitra, Haol Akbar dan Harlah ini bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa dari kesederhanaan seorang ulama di Pasir Bokor, tumbuh cahaya ilmu yang kini menerangi Tasikmalaya dan sekitarnya. Cahaya itu diharapkan terus hidup melalui santri yang berilmu, beramal, dan berakhlak.***
