Ny. Dyah Fandy Dharmawan: Dari Persit ke Strap Wastra Nusantara, Menghidupkan Warisan Leluhur di Era Modern

Media Warga+62.My.id - Menjaga relevansi warisan leluhur di tengah derasnya arus tren global bukan perkara mudah. Namun bagi Ny. Dyah Fandy Dharmawan, wastra Indonesia bukan sekadar lembaran kain mati yang tersimpan di lemari tua. Baginya, wastra adalah identitas yang bernafas dalam balutan etnik multifungsi.

Memberi wastra ruang untuk beradaptasi tanpa kehilangan jiwa menjadi filosofi utama karyanya. Potensi lokal ini kini menemukan wajah baru dalam bentuk tak terduga namun sangat relevan: aksesori kontemporer. Inovasi seperti perpaduan kulit sapi vegtan premium dengan kain ikat, tenun, dan songket dalam satu genggaman membuktikan bahwa keindahan tradisional mampu menjawab tantangan zaman.

Di dunia kerajinan tangan dan pemberdayaan UMKM, nama Ny. Dyah Fandy Dharmawan dikenal sebagai sosok yang tak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga visi kuat melestarikan budaya bangsa. Di tangannya, kain wastra bukan sekadar kain tradisional yang disimpan, melainkan pernyataan gaya yang dinamis.

Sebagai Ketua Persit KCK Ranting 3 Yonif 321 Cabang XI Brigif 13 Koorcab Divif 1 PG Kostrad, Ny. Dyah mampu menggabungkan dedikasi kepemimpinan organisasi dengan kecintaan mendalam terhadap kekayaan tradisi Indonesia. Dedikasi tinggi pada pelestarian budaya ia wujudkan melalui karya inovatif, diantaranya Strap Wastra Nusantara. Karya unggulan ini menjadi simbol nyata dari filosofi kreatifnya.

Melalui Strap Wastra Nusantara, kain tradisional tidak lagi dipandang sebagai benda statis.Setiap detailnya syarat makna, memadukan nilai luhur masa lalu dengan sentuhan gaya masa kini. Perpaduan ini menghasilkan karya yang elegan, memungkinkan keindahan budaya Nusantara mengalir secara alami dalam keseharian masyarakat modern.

Produk unggulan Ny. Dyah berfokus pada transformasi kain tenun maupun songket tangan atau handwoven yang dirangkai menjadi strap tas eksklusif. Setiap helai kain wastra yang dipilih membawa motif khas dari berbagai daerah di Nusantara, menjadikannya karya seni yang bisa dipakai.

“Wastra harus diberi ruang untuk hidup. Ia tidak boleh hanya menjadi koleksi di lemari. Dengan menjadikannya aksesori, kita membuat warisan ini relevan dan dicintai generasi sekarang,” ujar Ny. Dyah.

Inspirasi karya Strap Wastra Nusantara tak lepas dari sosok Ibu Herawati Boediono, Ketua Umum Dekranas periode 2009-2014 yang dikenal sebagai pionir pengembangan industri kerajinan nasional. Dukungan dan visi Ibu Herawati menjadi pemantik semangat bagi Ny. Dyah untuk terus menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memenuhi standar kualitas nasional.

Bagi Ny. Dyah, melestarikan wastra bukan sekadar soal mode. Ia melihatnya sebagai bentuk penghormatan pada para penenun dan identitas bangsa. Dengan menggabungkan kulit premium dan wastra tradisional, ia menciptakan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat cerita.

Karya Ny. Dyah kini menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa bertahan jika berani beradaptasi. Di tangan perempuan visioner ini, wastra Nusantara tidak lagi terkurung dalam tradisi kaku. Ia hidup, bernafas, dan mengalir dalam gaya hidup modern.

“Menjaga warisan bukan berarti menolak perubahan. Justru dengan perubahan, warisan itu tetap relevan dan terus diwariskan,” katanya.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama