Pemuda Persis Masuki Babak Baru, Dakwah Adaptif, Siap Kolaborasi Bangun Bangsa


Media Warga+62.My.id – Terpilihnya Ketua Umum Pemuda Persis dalam Musyawarah Nasional terbaru bukan sekadar pergantian kursi pimpinan. Momentum ini dibaca sebagai sinyal kuat lahirnya arah baru gerakan dakwah: lebih adaptif, progresif, dan berorientasi global.  

Sebagai sayap kepemudaan Persatuan Islam, Pemuda Persis mengemban mandat strategis. Generasi muda didorong jadi pelopor penyebaran nilai Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Namun tantangan hari ini tak sederhana. Disrupsi digital, pertarungan ideologi, hingga menurunnya kepercayaan publik pada institusi keagamaan menuntut jawaban baru.  

“Di titik ini kepemimpinan baru diuji. Pemuda Persis tidak cukup menjaga tradisi, tapi harus berani lompatan inovasi,” begitu narasi yang berkembang di internal organisasi. Dakwah dituntut keluar dari pola monoton dan eksklusif. Ruang digital, forum intelektual, hingga ranah kebijakan publik harus ditembus. Jika tidak, stagnasi jadi ancaman nyata.  

Lebih jauh, Pemuda Persis didorong mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa. Organisasi kepemudaan diminta tidak alergi pada ruang pemerintahan dan politik nasional. Dengan tetap menjaga independensi nilai, kolaborasi dengan pemerintah dinilai penting untuk mewujudkan negara yang berkeadilan, bermoral, dan berpihak pada umat.

Sinergi itu bukan berarti kehilangan daya kritis. Pemuda Persis diposisikan sebagai mitra strategis sekaligus kontrol sosial. Perannya: menjembatani aspirasi umat dengan kebijakan negara, serta ikut merumuskan arah politik nasional yang berintegritas.  

Refleksi kritis pun muncul. Beberapa ruang masih perlu diperkuat: kualitas kaderisasi, konsistensi gerakan di daerah, hingga keberanian masuk arena kebijakan publik. Kritik dipandang sebagai ikhtiar membangun, agar Pemuda Persis hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol.  

Kepemimpinan baru diharapkan menjawab tantangan dengan langkah konkret.

Penguatan basis kader, perluasan jaringan dakwah global, dan sinergi lintas sektor masuk daftar prioritas. Tujuannya jelas: Pemuda Persis bukan penonton arus perubahan, tapi aktor utama yang mengarahkan.  

Eman Sulaeman, Ketua Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) PD Pemuda Persis Kota Tasikmalaya, menyambut baik momentum ini.

“Kami menyambut terpilihnya Ketum sebagai titik evaluasi bersama. Pemuda Persis tak boleh terjebak romantisme sejarah. Harus berani pembaruan nyata dalam metode dan arah gerakan,” ujarnya.  

Eman menegaskan, Pemuda Persis siap mengambil peran pembangunan bangsa dengan bersanding bersama pemerintah. “Kolaborasi penting agar nilai keislaman terimplementasi dalam kebijakan publik, tanpa kehilangan independensi dan daya kritis,” tambahnya.  

Menurutnya, tantangan ke depan menuntut kader tak hanya kuat ideologis, tapi juga matang politik dan sosial. “Kami dorong kepemimpinan baru buka ruang strategis bagi kader untuk kontribusi langsung dalam pembangunan negara dan politik nasional,” kata Eman.  

Di daerah, Pemuda Persis Tasikmalaya menyatakan siap mengawal. “Komitmen kami: mengkritisi secara konstruktif dan memastikan Pemuda Persis hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang relevan bagi umat dan bangsa,” tegasnya.  

Musyawarah Nasional kali ini menandai fase baru. Bukan hanya pergantian nahkoda, tapi momentum pembenahan. Arah gerakan dituntut lebih tajam, relevan, dan berdampak luas, termasuk kontribusi nyata pada pembangunan negara dan politik nasional.(Rizky)***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama