Media Warga+62.My.Id - Gempuran konten media sosial membuat budaya lokal kian terpinggirkan. Menjawab tantangan iersebut, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat menggelar “Nyemah Atikan Penyiaran” bertajuk Regulasi Konten Lokal dan Masa Depan Penyiaran di Priangan Timur, Selasa (21/04/2026).
Kegiatan yang digelar di Bale Priangan, Gedung Bank Indonesia (BI), Jl.Sutisna Senjaya, kota Tasikmalaya ini menghadirkan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat Dr. Andiyana Slamet, Ketua Tim Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Komunikasi Publik Diskominfo Jawa Barat Siti Masliah Hayati, S.I.Kom., Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara, serta pegiat media dan mahasiswa se-Priangan Timur.
Ketua Asosiasi Pers Mahasiswa (APM) Priangan Timur, Muhamad Al Irvan Ukasah, menegaskan forum ini tidak berhenti pada diskusi regulasi. “Kegiatan ini tidak sebatas membahas regulasi saja, tapi harus bergerak bersama,” ujarnya.
Menurut Irvan, konten lokal, khususnya berbahasa Sunda, kini kalah saing di tengah arus algoritma media sosial. Padahal, Priangan Timur menyimpan banyak potensi budaya yang layak diangkat ke ruang digital. Persoalannya, kata dia, bagaimana memberi peluang lebih besar agar konten lokal mendapat tempat di platform penyiaran dan medsos.
“Ini tidak bisa berjalan sendiri. Kami punya tanggung jawab. Tidak cukup dibicarakan, tapi untuk dilaksanakan,” tegas Irvan.
Ia berharap forum ini menjadi langkah awal untuk melahirkan ide dan gagasan konkret untuk meningkatkan kualitas serta intensitas konten lokal.
Ketua Tim SDM dan Peningkatan Komunikasi Publik Diskominfo Jabar, Siti Masliah Hayati, menyebut isu konten lokal sudah lama menjadi perhatian pemerintah provinsi. Penyiaran televisi hingga digital, katanya, telah mengalami transformasi besar. Regulasi harus menyesuaikan, namun tidak boleh kaku.
“Regulasi harus berdasarkan peraturan, tapi jadi ruang, bukan sekat. Priangan Timur punya potensi besar yang belum tergarap maksimal,” kata Siti. Ia menekankan, identifikasi tantangan di lapangan harus dibarengi penguatan regulasi. Tanpa itu, konten lokal akan terus tertinggal.
Siti juga mendorong transformasi digital sebagai jalan keluar. Literasi produksi konten, distribusi di platform baru, hingga kolaborasi dengan kreator muda harus dibangun. Tujuannya, terbangun komitmen bersama dalam meningkatkan konten lokal yang berdaya saing sekaligus berakar pada nilai budaya.
Sementara itu, Ketua KPID Jawa Barat Dr. Andiyana Slamet mengungkap data yang mengkhawatirkan, dimana indeks konten budaya di penyiaran Jawa Barat paling rendah dibanding kategori lain. Kondisi ini jadi alarm bagi semua pihak, termasuk lembaga penyiaran, pemerintah, dan komunitas.
“Kegiatan ini menjadi momentum bagi Aliansi Pers Mahasiswa untuk meningkatkan konten-konten lokal,” ujar Andiyana. Ia mengingatkan, pembuatan konten tidak boleh lepas dari value. Nilai gotong royong, kolektivitas, dan kearifan lokal harus jadi pembeda di tengah banjir konten medsos yang cenderung individualis.
“Media sosial kerap merusak value. Nilai gotong royong dan kolektivitas tergantikan oleh budaya fomo dan viral sesaat. Ini tantangan kita bersama,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara yang hadir dalam forum tersebut mengapresiasi langkah APM Priangan Timur. Menurutnya, pemerintah daerah siap berkolaborasi membuka ruang bagi kreator lokal.
“Konten lokal adalah identitas. Kalau kita tidak jaga, anak cucu kita hanya kenal budaya dari layar, tapi bukan budayanya sendiri,” kata Diky.
Diskusi dalam “Nyemah Atikan Penyiaran” mengerucut pada tiga hal. Pertama, perlunya afirmasi regulasi agar lembaga penyiaran memberi porsi khusus bagi muatan lokal. Kedua, peningkatan kapasitas SDM pers mahasiswa dan komunitas untuk memproduksi konten berkualitas. Ketiga, sinergi antara pemerintah, KPID, kampus, dan kreator agar ekosistem konten lokal tumbuh sehat.
KPID Jawa Barat berkomitmen menjadikan forum ini agenda rutin. Tujuannya jelas: memastikan bahasa, seni, dan nilai Sunda tidak sekadar jadi arsip, tapi hidup di ruang digital yang kini dikuasai generasi muda.
Di tengah serbuan konten global, “Nyemah Atikan Penyiaran” ingin mengembalikan marwah konten lokal. Bukan dengan menolak teknologi, melainkan mengisinya dengan identitas. Sebab jika bukan anak Priangan Timur sendiri yang merawatnya, siapa lagi.***

