Media Warga+62.My.id – Beragam kegiatan menghiasi peringatan Hari Bumi Sedunia di Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/04/2026). Mulai dari helaran seni budaya, ritual adat, penanaman pohon, hingga bazar UMKM digelar dalam satu rangkaian “Ngarumat Hulu Cai”.
Acara yang diinisiasi Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) bersama warga sekitar ini mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Fraksi PDI Perjuangan, Kepler Sinaturi. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan.
“Saya menilai kegiatan ini jadi pemantik bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam,” ujar Kepler di lokasi.
Lebih dari itu, Kepler menyebut “Ngarumat Hulu Cai” berhasil mengawinkan tiga kepentingan sekaligus: edukasi lingkungan, pengenalan budaya lokal, dan penggerak ekonomi warga. Bazar UMKM yang dibuka sepanjang acara menjadi bukti nyata. Produk kerajinan, kuliner tradisional, hingga hasil kebun warga laris diserbu pengunjung.
Kepler menyoroti kondisi ekologi Bungursari yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja. Alih fungsi lahan, berkurangnya resapan air, dan sampah jadi pekerjaan rumah bersama. Karena itu, momentum Hari Bumi di Gunung Kokosan diharapkan mampu mengubah cara pandang warga terhadap alam.
“Wilayah Kecamatan Bungursari saat ini sedang dalam kondisi ekologi yang tidak baik-baik saja. Dengan adanya kegiatan ini, saya harap kesadaran masyarakat untuk menjaga ekologi alam makin meningkat,” tegasnya.
Ia mendorong kegiatan serupa terus digelar tiap tahun. Menurut Kepler, acara kali ini cukup jadi pemantik. Selanjutnya masyarakat diharapkan berinisiatif mengadakan agenda pelestarian lingkungan secara mandiri, tanpa selalu menunggu pemerintah.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kepler menyatakan siap membantu mengalokasikan anggaran untuk kegiatan serupa pada tahun anggaran 2027. Langkah ini agar gerakan merawat alam dan budaya tidak berhenti di tengah jalan.
“Ngarumat Hulu Cai” sendiri berpusat pada ritual menjaga mata air di Gunung Kokosan. Prosesi adat dilakukan bersama tokoh budaya, seniman, dan warga.
Penanaman pohon turut dilakukan di sekitar titik mata air sebagai simbol komitmen menjaga hulu kehidupan.
Helaran seni budaya dari berbagai sanggar menambah semarak acara. Warga yang hadir tak hanya menonton, tapi juga diajak terlibat dalam doa dan harapan bersama untuk alam yang lestari.
Dari Gunung Kokosan, pesan itu bergema: merawat bumi berarti merawat budaya dan ekonomi sekaligus. DKKT berharap semangat “Ngarumat Hulu Cai” menular ke kelurahan lain di Tasikmalaya.***
