Bank Sampah Ciherang Tunas Mulia, dari Kegelisahan Warga Jadi Motor Pengelolaan Sampah di Tasikmalaya

Media Warga.My.id - Berawal dari kegelisahan melihat tumpukan sampah yang semrawut di lingkungan, warga Kelurahan Ciherang, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya justru mengubah masalah menjadi solusi. Lewat Bank Sampah Ciherang Tunas Mulia, sampah yang dulu dianggap menjijikkan kini disulap menjadi bernilai ekonomi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Bank Sampah ini berdiri sejak 2020 dan hingga kini tetap konsisten mengelola sampah rumah tangga. Pendirinya, Muhamad Haerul Ihsan, yang juga Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi) Kota Tasikmalaya, mengakui mendirikan bank sampah bukan perkara mudah.

“Banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari paradigma masyarakat yang menganggap sampah itu sesuatu yang menjijikkan, hingga rendahnya kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan,” ungkap Haerul saat ditemui di lokasi, Jumat (10/04/2026).

Menurut Haerul, ide mendirikan bank sampah lahir dari keresahan pribadi. “Kami mendirikan Bank Sampah atas dasar kegelisahan melihat semrawutnya sampah di lingkungan, khususnya di RW 01 tempat kami tinggal,” katanya.

Tujuannya jelas, mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Warga diajak memilah sampah dari rumah. Sampah anorganik ditabung, sementara sampah organik diolah lebih lanjut.

Seiring waktu, Bank Sampah Ciherang Tunas Mulia terus berkembang. Tak hanya berhenti di pemilahan, bank sampah ini sudah memproduksi eco enzyme dari sampah organik dan mengembangkan budidaya magot sebagai pengurai sekaligus pakan ternak. Nilai tambah itu membuat warga makin antusias menabung sampah.

Kini, gerakan tersebut menular. Di Kelurahan Ciherang sudah berdiri enam bank sampah yang tersebar di enam RW dengan nama yang sama. Model replikasi ini membuat dampak pengurangan sampah terasa lebih luas.

Haerul mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Tasikmalaya yang mulai turun langsung ke lapangan. Wakil Wali Kota Tasikmalaya sempat berkunjung ke lokasi untuk melihat proses pengelolaan sekaligus berdiskusi soal pengembangan bank sampah ke depan.

“Kami apresiasi kepedulian pemerintah. Kunjungan itu jadi penyemangat agar bank sampah bisa berkembang lebih luas lagi,” ujarnya.

Namun Haerul menegaskan, persoalan sampah bukan hanya urusan pemerintah atau Dinas Lingkungan Hidup.

“Permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan DLH, tapi juga tanggung jawab kita semua yang menghasilkan sampah,” tegasnya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara pun memberikan apresiasi. Ia menilai semangat warga Ciherang dalam mengelola sampah lewat bank sampah patut dicontoh kelurahan lain.

“Saya mengapresiasi semangat dan kepedulian warga, khususnya di Kelurahan Ciherang. Ini bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari tingkat paling bawah, dari rumah, dari RT, dari RW,” kata Diky.

Ia berharap langkah warga Ciherang menular ke wilayah lain di Kota Tasikmalaya. Dengan populasi lebih dari 700 ribu jiwa, volume sampah harian kota ini cukup besar. Jika setiap kelurahan punya bank sampah aktif, beban TPA bisa ditekan signifikan.

Kini Bank Sampah Ciherang Tunas Mulia bukan sekadar tempat menabung botol plastik atau kardus. Ia telah menjadi ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan bukti bahwa sampah yang dikelola dengan benar mampu menjadi “emas”. Dari kegelisahan seorang warga, lahir gerakan yang perlahan mengubah wajah lingkungan.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama