Media Warga+62.My.Id– Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat menggelar sosialisasi bertajuk _“Ngajaga Lembur, Ngarawat NKRI”_ di Gedung Aulia Hall Center, Jl. Letnan Harun, Kota Tasikmalaya, Rabu (08/04/2026).
Kegiatan ini diikuti kurang lebih 300 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Mulai dari tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan RT/RW se-Kota Tasikmalaya.
Mereka dilibatkan sebagai garda terdepan dalam menangkal paham radikal dan menjaga stabilitas daerah.
Empat narasumber kompeten dihadirkan untuk memberikan materi. Mereka adalah Guru Besar Fikom Unpad, Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si; Doktor Kuminkais Publik dan Ilmu Pemerintahan Unpad, Dr. Ilham Gemiharto, S.Sos, M.Si; Kepala Bakesbangpol Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M; serta Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, S.IK, M.H.
Kepala Bakesbangpol Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M, mengatakan stabilitas daerah sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam memfilter ideologi ekstrem yang masuk melalui berbagai kanal, terutama media sosial.
“Stabilitas daerah tergantung pada kemampuan masyarakat dalam memfilter ideologi ekstrem. Untuk itu, edukasi langsung ke masyarakat dinilai efektif untuk memutus rantai penyebaran paham radikal,” ujar Ade Hendar di sela kegiatan.
Ia berharap sosialisasi “Ngajaga Lembur, Ngarawat NKRI” mampu meningkatkan kesadaran kolektif warga akan bahaya radikalisme yang bisa merusak keutuhan bangsa. Menurutnya, pendekatan kultural dengan tagline berbahasa Sunda dipilih agar pesan kebangsaan lebih membumi dan mudah diterima masyarakat Priangan Timur.
Ade mengajak seluruh peserta yang hadir untuk tidak berhenti sebagai pendengar. Mereka diminta menjadi agen informasi di lingkungannya masing-masing. Tugasnya sederhana, yaitu menyampaikan kembali pentingnya menjaga keutuhan bangsa, merawat toleransi, dan melaporkan jika menemukan indikasi penyebaran paham menyimpang.
“Jadilah penyambung informasi yang baik. Sampaikan ke tetangga, ke grup WA, ke komunitas, bahwa NKRI ini harus kita jaga bersama. Jangan beri ruang bagi paham yang ingin memecah belah,” pesannya.
Sementara itu,Kepala Bidang Kewaspadaan Daerah, Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat, Khaerul Naim, menekankan pentingnya literasi media di era digital. Ia menyebut paham radikal kini menyebar melalui konten yang dikemas menarik, menyentuh emosi, dan memanfaatkan algoritma. Masyarakat harus dibekali kemampuan berpikir kritis sebelum membagikan informasi.
“Jangan mudah terpancing judul provokatif. Cek dulu sumbernya, lihat konteksnya. Sekali kita share konten radikal, berarti kita ikut menyebarkan,” jelas Khairul Naim.
Dr. Ilham Gemiharto menambahkan, pemerintah daerah perlu memperkuat kolaborasi dengan komunitas akar rumput. Menurutnya, deteksi dini paham ekstrem paling efektif dilakukan di tingkat RT/RW karena interaksi sosial paling intens terjadi di sana.
Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, memastikan jajarannya siap bersinergi dengan Bakesbangpol dan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa radikalisme bukan hanya isu ideologi, tetapi bisa berujung pada aksi teror yang mengancam nyawa.
“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Butuh mata dan telinga masyarakat. Kalau ada gelagat mencurigakan, segera koordinasi dengan Bhabinkamtibmas atau Babinsa,” tegas Andi.
Para peserta menyambut positif kegiatan ini. Banyak dari mereka baru pertama kali mendapat materi langsung dari akademisi dan aparat terkait strategi menangkal radikalisme. Mereka berkomitmen meneruskan pesan kebangsaan di lingkungan masing-masing.***
