Media Warga+62.My.id - Memperingati HUT ke-81 RI, SDN 1 Gunung Pereng Kota Tasikmalaya menggelar rangkaian kegiatan selama tiga hari dengan mengusung tema nasional “Bersatu, Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Kepala sekolah SDN 1 Gunung Pereng Tasikmalaya, Dr.Irvan Kristivan menegaskan, peringatan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan lomba 17-an.
“Yang utama anak-anak harus paham nilai nasionalisme dan kebangsaan. Sekarang di media sosial kita sering lihat narasi yang memecah. Padahal Indonesia itu kita semua,” ujar Kepala SDN 1 Gunung Pereng saat diwawancarai, Rabu, (19/08/2026).
Menurutnya, hari pertama seluruh kegiatan bertema merah putih untuk menumbuhkan cinta tanah air. Hari berikutnya tema diganti menjadi profesi, budaya, dan keberagaman. Setiap kelas mendapat tema berbeda.
“Kenapa berbeda? Karena Indonesia memang beragam. Dari profesi sampai budaya. Kita tidak ingin mencetak generasi yang intoleran. Justru dari perbedaan inilah negara ini terbentuk,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kelas 1 mengangkat tema budaya dengan siswa mengenakan kebaya. Kelas 2 bertema profesi seperti dokter, tentara, dan lainnya. Penentuan tema disesuaikan wali kelas masing-masing.
“Kita ajarkan, hari ini kita berbeda-beda, tapi kita satu sebagai siswa-siswi SDN 1 Gunung Pereng. Lebih luas lagi, walau ada SDN 1, 2, 5 dalam satu kompleks, kita tetap satu keluarga besar,” katanya.
Rangkaian kegiatan diisi lomba siswa, karnaval, fashion show guru, fashion show anak, hingga fashion show orang tua dan anak. Keterlibatan orang tua sengaja dilakukan agar anak memahami makna perjuangan.
“Siapa pahlawan anak-anak? Ya orang tuanya. Ada ibu yang tiap hari antar jemput, ke pasar dulu baru jemput lagi. Kalau dilakukan setiap hari itu perjuangan besar,” ujarnya.
Guru-guru juga dilibatkan lewat lomba antar guru di akhir kegiatan. Tujuannya agar semangat persatuan tidak hanya diajarkan ke siswa, tetapi juga dipraktikkan tenaga pendidik.
“Antar sekolah dalam satu kompleks kadang ada persaingan. Tapi di momentum seperti HUT RI dan Hari Guru, kita bangun kompetisi sehat. Kita tetap membangun sekolah ini bersama-sama,” katanya.
Kepala sekolah menyebut kegiatan ini bagian dari kokurikuler yang terintegrasi dengan pembelajaran, terutama Pendidikan Pancasila.
“Di kelas 1 semester awal ada materi nilai Pancasila. Jadi kegiatan ini menyesuaikan materi kelas masing-masing,” terangnya.
Tahun ini sekolah juga memanfaatkan lapangan gateball rumput sintetis yang baru sekitar dua bulan dipasang dengan bantuan Ketua KONI. Lapangan itu tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk latihan guru dan atlet gateball Kota Tasikmalaya jelang Porprov 2026.
“Sarana ini milik Pemkot, jadi harus dimanfaatkan bersama. Ini mendukung perkembangan gateball di Tasikmalaya,” ujarnya.
Dibanding tahun sebelumnya, kegiatan 2026 lebih memberikan ruang bagi siswa menunjukkan bakat. Tahun lalu kegiatan digabung sekompleks sehingga waktu terbatas dan tidak semua siswa kebagian tampil.
“Sekarang tiap sekolah jalan sendiri. Ada penampilan ekstrakurikuler, sepatu roda, tari. Anak-anak jadi punya panggung untuk berkarya,” katanya.
Ia bersyukur, dari kegiatan ini banyak tergali potensi siswa yang ternyata aktif les tari dan vokal di luar sekolah.
“Anak usia sampai 12 tahun harus diberi ruang kreasi seluas-luasnya. Dari situ kita bisa lihat potensi mereka. Kalau tidak ada kegiatan seperti ini, bakatnya tidak akan kelihatan,” pungkasnya.***
