Media Warga+62.My.id - Peringatan HUT ke-81 RI di Perum Mega Mutiara Tasik Regency, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari tahun ini terasa berbeda. Panggung kemerdekaan bukan hanya dipenuhi lomba dan hiburan biasa, tapi juga kolaborasi dua budaya besar, Sunda dan Batak.
Gerakan lemah gemulai Jaipong berpadu dengan hentakan energik Tari Tor-Tor. Dua kesenian dari ujung yang berbeda di Nusantara itu tampil berdampingan, disambut tepuk tangan meriah warga, Jumat malam (28/08/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara, Sekmat Bungursari, dan Lurah Cibunigeulis, ketua Pemuda Batak Bersatu, Kehadiran para pejabat disambut antusias warga dari berbagai latar belakang.
Ketua panitia dari unsur Suku Batak, Agus Tua Lumban Toruan, S.H, mengatakan ini adalah kali pertama kegiatan lintas budaya digelar di perumahan mereka.
“Tujuannya sederhana, mempererat tali silaturahmi. Meskipun kita beda suku, beda agama, tapi di sini kita tetap satu, warga Indonesia,” ujar Agus.
Ia menyebut saat ini ada sekitar 120 warga keturunan Batak yang tinggal di Perum Mega Mutiara. Selama ini, katanya, komunikasi antarwarga sudah baik. Lewat peringatan kemerdekaan ini, kebersamaan itu ingin ditunjukkan lebih nyata.
Dari unsur Suku Sunda, panitia Asep menambahkan kegiatan ini menjadi ruang untuk menjaga kerukunan dan toleransi.
“Jaipong dan Tor-Tor sama-sama warisan budaya bangsa. Kalau ditampilkan bersama, pesannya jelas, kita berbeda tapi tetap bersatu. Itu semangat HUT RI,” kata Asep.
Acara dimulai dengan lomba karaoke lagu Perjuanagan. Namun yang paling menyita perhatian adalah penampilan kolaborasi seni.
Penari Jaipong dengan kebaya dan iket tampil lebih dulu, diiringi kendang dan suling. Tak lama kemudian, para penari Tor-Tor dengan ulos khas Batak maju ke panggung. Musik gondang mengiringi gerakan tangan yang dinamis. Di akhir penampilan, kedua kelompok penari berbaur dan menutup dengan salam kebangsaan.
Warga yang hadir tampak kompak. Ada yang mengenakan baju adat Sunda, ada juga yang memakai atribut Batak.
Wakil Wali Kota Diky dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif warga. Ia menilai kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat persatuan di tingkat lingkungan.
“Kemerdekaan itu maknanya kebersamaan. Di Mega Mutiara kita lihat buktinya. Sunda dan Batak bisa satu panggung. Ini contoh nyata Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Diky.
Ia berharap kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin setiap tahun, bukan hanya saat peringatan kemerdekaan.
Kedekatan dan kehangatan semakin nampak pada acara Talkshow, kedua perwakilan suku mengupas tuntas dua adat budaya daerah yang berbeda, bukan untuk mencari perbedaan tapi saling menghargai dalam keberagaman dan menjadi kekayaan budaya bangsa.
Dengan semangat gotong royong, warga Mega Mutiara membuktikan bahwa perbedaan bukanlah sekat. Justru di tengah perbedaan itulah semangat kemerdekaan ke-81 RI semakin terasa hidup dan membumi.***
