Media Warga+62.My.id - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar, Drs. H. Yod Mintaraga, M.PA, melakukan kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan tahun 2026 di Kota Tasikmalaya.
Kegiatan berlangsung di Sekretariat Forum Kerukunan Umat Beragama FKUB Kota Tasikmalaya, Sabtu (22/08/2026). Turut hadir jajaran pengurus Lembaga Seni Qosidah Indonesia (LASQI) Kota Tasikmalaya.
Pertemuan tersebut menjadi forum diskusi untuk menguatkan peran seni qosidah sebagai identitas budaya religi di Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai Kota Santri.
Silaturahmi dan Dukungan untuk Seni Religi
H. Yod Mintaraga menyebut kunjungan ini sebagai bentuk silaturahmi sekaligus komitmen DPRD dalam mendukung perkembangan qosidah di tengah masyarakat.
“Qosidah merupakan kesenian yang berakar dari nilai-nilai Islam. Di dalamnya ada keindahan seni, sekaligus ada pesan dakwah melalui lirik dan lantunan lagu religi. Karena itu harus kita jaga dan kembangkan bersama,” kata H.Yod.
Ia menilai LASQI memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu seni budaya religi. Apresiasi khusus ia sampaikan karena LASQI Kota Tasikmalaya telah membentuk kepengurusan hingga tingkat RW.
“Struktur sampai ke bawah ini bagus untuk pembinaan dan regenerasi. Kalau jaringannya kuat, qosidah akan lebih kompetitif. Ke depan kita dorong ada festival dan lomba yang skalanya lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seni qosidah tidak hanya bernilai spiritual. Jika dikelola dengan baik, event qosidah bisa menggerakkan ekonomi warga. Mulai dari produsen alat rebana, penjahit kostum, hingga pelaku UMKM kuliner bisa ikut merasakan dampaknya.
“Saya berkomitmen untuk terus mendorong LASQI agar semakin berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat,” tegasnya.
LASQI Tasikmalaya Masuk Era Digital, Bidik Gen Z
Ketua LASQI Kota Tasikmalaya, Andi Sulanjani, mengucapkan terima kasih atas dukungan DPRD Jabar. Ia menyebut pertemuan ini sebagai wujud sinergi antara pemerintah, legislatif, dan lembaga seni untuk menjalankan program sampai ke tingkat masyarakat.
Andi menyoroti tantangan besar yang dihadapi saat ini, yaitu menurunnya minat generasi muda terhadap qosidah di tengah gempuran hiburan digital.
“Anak muda sekarang lebih banyak main gadget. Jika kita tidak mengikuti perkembangan zaman, qosidah bisa tergerus,” ucap Andi.
Untuk merespons hal itu, LASQI mulai bertransformasi ke digital. Salah satu programnya adalah memproduksi film pendek bertema qosidah. Konten ini dirancang khusus untuk menarik perhatian Gen Z agar lebih mengenal seni tersebut.
Selain itu, LASQI juga menyiapkan agenda besar menyambut HUT Kota Tasikmalaya, yakni Parade Seribu Rebana.
“Para grup qosidah akan berjalan bersama sambil menabuh rebana. Ini bukan hanya pertunjukan, tapi juga syiar seni religi di ruang publik dan simbol kebersamaan warga,” jelas Andi.
Sepakat Kuatkan Pembinaan dan Anggaran
Dalam diskusi, DPRD dan LASQI sepakat bahwa pelestarian qosidah harus diiringi pembinaan rutin, pelatihan, dan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
“Sinergi ini penting. DPRD bertugas mengawasi dan mendorong kebijakan, sementara LASQI fokus pada pembinaan. Harapannya qosidah di Tasikmalaya tidak hanya lestari, tapi juga bisa menjadi bagian dari industri kreatif yang menghidupkan ekonomi,” tutup H. Yod.**

