Media Warga+62.My.id - Di tengah gempuran gadget dan game, seorang bocah 4 tahun di Kabupaten Tasikmalaya justru memilih panggung kayu dan tokoh wayang golek sebagai dunianya. Namanya Abang Aqsha, dalang cilik asal Dusun Lampegan, Desa Gresik, Kecamatan Jamanis.
Sabtu,(15/8/2026), Abang Aqsha tampil memukau dalam pagelaran wayang golek dengan lakon “Sastra Jingga Jadi Relawan”. Suaranya lantang, gerak tangannya cekatan memainkan tokoh, dan penjiwaannya tak kalah dari dalang dewasa.
Penampilan itu bukan hanya hiburan. Ia menjadi bukti bahwa seni tradisi masih bisa tumbuh subur di tangan generasi paling muda.
Acara tersebut dihadiri Lembaga Seni Mahasiswa Islam LSMI HMI Cabang Tasikmalaya. Kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya Sunda, khususnya seni padalangan.
Generasi Alpha Pilih Panggung, Bukan Hanya Layar
Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, mengaku takjub melihat Abang Aqsha.
“Senang sekali ada Generasi Alpha usia 4 tahun yang mau melestarikan budaya leluhur. Biasanya anak seusia ini dekatnya dengan game atau media sosial. Tapi Aqsha justru memakai media sosial sebagai panggung untuk berkarya lewat wayang,” kata Cepi usai acara.
Bagi Cepi, Abang Aqsha sedang menunjukkan satu hal penting. Kemajuan teknologi tidak harus menjauhkan anak dari akar budaya. Justru teknologi bisa jadi jembatan agar wayang golek dikenal lebih luas.
“Wayang tidak harus berhenti di panggung desa. Cerita, suara, dan nilai-nilainya bisa masuk ke ruang digital. Media sosial bisa kita gunakan supaya seni tradisi ketemu dengan anak-anak zaman sekarang,” jelasnya.
Angin Segar untuk Dunia Padalangan
Di usia yang biasanya masih sibuk bermain, Abang Aqsha sudah hafal karakter, suara tokoh, dan pakem pedalangan. Ia belajar langsung dari lingkungan, keluarga, dan panggung kampungnya sendiri.
Apa yang ia lakukan menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak perlu dimulai dari hal besar. Cukup dari seorang anak yang cinta wayang, dari dukungan keluarga, dan dari ruang yang diberikan masyarakat.
“Kecintaan itu tumbuh karena ada ruang. Kalau anak diberi kesempatan, tradisi akan hidup dengan caranya sendiri,” ujar salah satu warga yang hadir.
LSMI HMI berharap akan muncul lebih banyak “Abang Aqsha” di Tasikmalaya dan daerah lain. Generasi yang tidak hanya mahir memakai teknologi, tetapi juga menjadikannya alat untuk merawat identitas.
Budaya, kata Cepi, tidak akan mati hanya karena dikenang. Ia akan terus hidup jika ada anak-anak hari ini yang mau meneruskannya.
Di panggung sederhana Dusun Lampegan itu, pesan itu terasa nyata. Ketika lampu sorot menyala dan kelir dibentangkan, seorang bocah 4 tahun membuktikan: selama masih ada yang mau memainkan wayang, maka cerita leluhur tidak akan pernah padam.***

