Media Warga+62.My.id – Ratusan warga Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya memadati Lapang Desa pada Sabtu malam,(04/07/2026). Mereka berkumpul bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga menyaksikan pagelaran seni yang menjadi ciri khas daerah.
Kegiatan bertajuk "DPRD Menyapa Warga Berbasis Budaya" itu digelar Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Budi Mahmud Saputra,S.E, Acara ini sengaja dikemas berbeda, memadukan dialog dengan wakil rakyat dan panggung seni tradisional.
Panggung Budaya Hidupkan Semangat Warga
Sepanjang malam, panggung rakyat di Sukaratu dipenuhi penampilan anak-anak dan seniman lokal. Mulai dari atraksi pencak silat anak yang enerjik, tarian jaipong anak yang memukau, hingga kreasi seni tradisional lainnya.
Penonton bersorak dan bertepuk tangan meriah saat Grup Dorban Al Kautsar asal Kampung Sampalanlega, Desa Cintaraja tampil. Penampilan grup tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dan mendapat sambutan hangat dari warga.
Bagi masyarakat Sukaresik, malam itu terasa spesial. Selain bisa bertemu langsung dengan wakilnya di DPRD Jabar, mereka juga diajak bernostalgia dengan kesenian yang mulai jarang ditampilkan.
Budaya Adalah Jati Diri yang Harus Dirawat
Dalam sambutannya, H. Budi Mahmud Saputra menyampaikan bahwa kegiatan ini punya dua tujuan. Pertama sebagai ruang temu dan dialog antara legislatif dengan konstituen. Kedua, sebagai bentuk dukungan nyata untuk menjaga seni budaya lokal.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah upaya kita bersama merawat identitas. Budaya adalah jati diri orang Tasikmalaya. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujar Budi.
Ia menekankan, di tengah derasnya arus modernisasi, kesenian tradisional harus terus diberi ruang. Anak-anak muda perlu dikenalkan agar mereka bangga dan mau meneruskan warisan para leluhur.
“Kita punya kekayaan budaya yang luar biasa. Tugas kita merawatnya, mengembangkannya, dan mewariskannya ke generasi penerus. Jangan sampai karena perkembangan zaman, seni kita justru hilang,” tegasnya.
Dorong Ruang Ekspresi bagi Seniman Lokal
Budi juga menyoroti pentingnya dukungan bagi para pelaku seni di tingkat desa. Menurutnya, pemerintah dan wakil rakyat harus hadir memberi fasilitas agar seniman punya panggung untuk berkarya.
Ia berharap kegiatan serupa bisa rutin digelar di berbagai wilayah. Dengan begitu, kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah semakin tumbuh, dan para seniman lokal mendapat apresiasi yang layak.
“Kalau senimannya semangat, budayanya hidup. Kalau budayanya hidup, Tasikmalaya akan semakin dikenal karena keunikannya,” katanya.
Acara ditutup dengan ramah tamah antara warga dan jajaran. Banyak warga yang menyampaikan aspirasi langsung kepada H. Budi, mulai dari infrastruktur hingga pengembangan sanggar seni di desa.
Melalui "DPRD Menyapa Warga Berbasis Budaya", diharapkan masyarakat Tasikmalaya semakin bangga dengan warisan budaya sendiri. Sekaligus menjadi pengingat bahwa melestarikan tradisi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah.***
