Media Warga+62.My.id – Bencana bisa datang tanpa aba-aba, mengancam nyawa dan mengganggu kehidupan masyarakat. Saat krisis kesehatan terjadi, kelompok rentan seperti perempuan, remaja putri, dan anak-anak paling terdampak. Data menunjukkan 75% penduduk yang terdampak bencana adalah perempuan, remaja putri, dan anak-anak. Sebanyak 19% remaja usia 10-19 tahun berisiko mengalami kekerasan seksual, perkawinan anak, hingga perdagangan manusia. Sementara 27% wanita usia subur 15-49 tahun tetap membutuhkan layanan kesehatan reproduksi, termasuk pembalut saat menstruasi.
Melihat kondisi itu, Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Jurusan Kebidanan dan Keperawatan meluncurkan inovasi digital bernama SeGar, singkatan dari Sehat dalam Kondisi Gawat Darurat. Aplikasi berbasis Android ini dirancang sebagai media edukasi penanganan kebencanaan, dengan fokus pada kesehatan reproduksi remaja.
Tim yang diketuai Laila Putri Suptiani, S.ST, M.Keb, bersama anggota Bayu Irianti, A.Md.Keb,S.ST, M.Keb, dan Angga Sugiarto, M.Kes, menyebut SeGar merupakan implementasi dari penelitian tahun 2024 tentang Rancangan Media Edukasi Berbasis Aplikasi Paket Pelayanan Awal Minimum Kesehatan Reproduksi Pada Situasi Krisis Kesehatan.
Sasaran program kali ini adalah remaja SMPN 3 Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Tujuannya jelas: melatih siswa menggunakan aplikasi SeGar sekaligus memberi edukasi kebencanaan, sehingga mereka mampu menjadi motivator bagi teman sebaya dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Kegiatan digelar bertahap. Pada Senin, 23 Juni 2026 lalu, tim pengabdian menggelar pelatihan dan edukasi langsung di SMPN 3 Sukahening. Acara dibuka dengan sambutan kepala sekolah, dilanjutkan sambutan bidan koordinator Puskesmas Sukahening. Materi utama disampaikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, membahas pentingnya Paket Pelayanan Awal Minimum Kesehatan Reproduksi saat krisis. Sesi terakhir diisi praktik penggunaan aplikasi SeGar untuk simulasi kesiapsiagaan bencana pada remaja.
Lewat aplikasi SeGar, siswa diajak memahami jenis bencana, langkah kesiapsiagaan, penilaian kebutuhan saat krisis, hingga distribusi hygiene kit, kit perempuan, dan kit laki-laki. Aplikasi juga memuat panduan mengurangi risiko kekerasan berbasis gender di pengungsian, serta langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan remaja.
“Kegiatan ini tidak berhenti di pelatihan. Harapannya, peserta tidak hanya paham materi, tapi juga menerapkan dalam keseharian. Remaja bisa jadi agen perubahan dan motivator sebaya yang mengajak teman-temannya lebih peduli kesiapsiagaan bencana,” ungkap Laila Putri Suptiani.
Lebih jauh, tim pengabdi berharap aplikasi SeGar dimanfaatkan optimal sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi dan kebencanaan. Dengan begitu, sekolah dan lingkungan sekitar menjadi lebih siaga, tanggap, dan peduli. Kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan Dinas Kesehatan pun diharapkan terus berlanjut dalam pembinaan remaja.
Untuk memastikan dampak program, tim akan melakukan monitoring dan evaluasi pada bulan berikutnya. Monev ini menilai sejauh mana siswa SMPN 3 Sukahening menggunakan aplikasi SeGar dan menularkan edukasi kesiapsiagaan kepada teman lainnya.
Di daerah rawan bencana seperti Sukahening, membekali remaja dengan pengetahuan dan teknologi sederhana bisa menjadi langkah strategis. Sebab dari tangan remaja yang teredukasi, kesiapsiagaan bencana dapat tumbuh menjadi budaya yang menyelamatkan banyak nyawa.(Vhet)***

