Media Warga+62 My.id – Upaya menggali potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah lewat sektor budaya dan sejarah terus dilakukan. Diky Candra memenuhi undangan Dinas Arsip untuk melakukan brainstorming dengan pengelola Diorama Yogyakarta, membahas sistem pembiayaan, sisi kreatif, hingga tahapan pembuatan diorama.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta bersama tim. Mereka memaparkan proses terbentuknya diorama, dari konsep hingga eksekusi, sekaligus mengajak perwakilan Pemkot Tasikmalaya menyaksikan langsung karya para seniman Yogyakarta yang tertuang dalam diorama.
Menurut Diky Candra, di tengah kondisi fiskal Kota Tasikmalaya yang belum ideal, pembangunan harus punya prioritas jelas. “Kita perlu fokus ke program yang berdampak langsung pada peningkatan PAD dan menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya.
Karena itu, Diky juga menemui Kadishut untuk membahas pengembangan hutan kota dan hutan bambu.
“Insyaallah 2026 hutan bambu mulai dibangun dengan anggaran dari provinsi. Ini memanfaatkan aset milik provinsi di kawasan eks Kantor Pertambangan Kota Tasikmalaya. Pembiayaannya diupayakan dari luar karena fiskal daerah berat, tapi hasilnya diyakini bisa dorong PAD dan ciptakan perputaran ekonomi positif,” jelasnya.
Diky juga berharap Pemkab Tasikmalaya segera menemukan solusi pemanfaatan kawasan Cilembang. Ia mengusulkan konsep kawasan pertunjukan seni outdoor.
“Kalau terealisasi, pasti bagus untuk PAD kabupaten. Tapi efek domino ekonominya juga akan terasa sampai Kota Tasikmalaya,” kata Diky.
Tak hanya itu, ia mendorong agar Pendopo dimanfaatkan sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah Kesukapuraan. Konsepnya bisa berupa semi museum atau mini diorama. “Selain menambah PAD, ini penting untuk pelestarian sejarah dan budaya lokal,” tambahnya.
Diky menilai, kehadiran diorama di Kota Tasikmalaya akan memberi manfaat ganda. Secara langsung maupun tidak, diorama bisa jadi sumber PAD baru sekaligus sarana edukasi sejarah.
“Diorama bisa mengenalkan sejarah Kota Tasik, Priangan, bahkan Jawa Barat secara visual dan menarik,” ujarnya.
Ia prihatin karena banyak anak muda Tasik hari ini tidak mengenal tokoh dan peristiwa penting daerahnya. “Banyak yang tidak tahu apa itu Bestong. Banyak yang tidak tahu siapa tokoh perempuan Tasikmalaya yang lahir sebelum R.A. Kartini, yang berjuang untuk perempuan dan menulis buku sukses di zamannya,” ungkap Diky.
Melalui diorama dan destinasi sejarah, Diky berharap identitas dan kebanggaan sebagai warga Tasikmalaya kembali tumbuh. Sekaligus, menjadi magnet wisata baru yang mendongkrak ekonomi dan PAD di tengah keterbatasan fiskal daerah.***

