Pemuda Tasikmalaya Berkotor Ria Tanam 1.300 Pohon di Lahan Rawan Longsor Huru Kapas


Media Warga+62.My.Id - Di tengah maraknya wacana soal krisis iklim, pemuda Kabupaten Tasikmalaya memilih jalan berbeda: turun langsung ke tanah. Awal April 2026, kawasan Huru Kapas di Kampung Torowek, Desa Dirgahayu, Kecamatan Kadipaten, menjadi saksi kolaborasi apik antara Aliansi Remaja dan Pemuda Kampung Torowek (AMANAT) dan BEM Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya.

Lewat Jambore Tanam ke-7 yang digelar Sabtu–Minggu, 4–5 Maret 2026, mereka membuktikan sinergi akademisi, pemuda lokal, dan masyarakat adalah kunci memulihkan alam yang kritis.

Investasi Nyawa di Lereng Rawan Longsor

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam-lalu-tinggal. Sebanyak 1.300 pohon telah ditanam secara bertahap sejak awal tahun, dengan puncak aksi dilakukan akhir pekan lalu di lahan miring yang rawan longsor.

“Kami tidak akan berhenti sampai daerah ini benar-benar hijau. Ini komitmen kami agar warga Trowek aman dari ancaman longsor,” tegas Robi Ramlan, tokoh pemuda Trowek.

Pemilihan jenis pohon pun dilakukan dengan strategi matang. Untuk memperkuat struktur tanah dan menjaga sumber mata air, ditanam Kayu Manglid dan Picung sebagai “penyangga bumi”. Sementara untuk pilar ekonomi warga, dipilih Cengkeh, Pala, Manggis, dan Alpukat yang kelak hasilnya bisa dinikmati masyarakat. Pohon-pohon ini juga diharapkan menjadi penghasil oksigen bagi kawasan tersebut.

Menanam Rasa, Bukan Sekadar Batang

Jambore Tanam kali ini terasa berbeda. Ratusan mahasiswa dari Unper, Universitas Siliwangi (Unsil), dan pemuda setempat memilih berkemah di tengah hutan. Di bawah langit malam Kadipaten yang cerah setelah siang diguyur hujan, mereka menggelar diskusi hangat soal pelestarian ekosistem.

Cara ini terbukti membangun ikatan emosional antara relawan dan lahan yang mereka tanami. Mahasiswa tidak lagi memandang gunung sekadar objek foto, melainkan titipan yang wajib dijaga.

Solusi Konkret dari Kampus untuk Rakyat

Ketua BEM Unper, Abdan Syakuro, menegaskan aksi turun lapangan adalah wujud nyata pengabdian masyarakat. “Mahasiswa harus hadir di tengah masalah warga. Pohon-pohon ini simbol keberlanjutan—penjaga mata air, produsen oksigen, sekaligus sumber pangan bagi ekosistem lokal,” ujarnya.

Ketua Srikandi Sungai Indonesia (SSI) Kabupaten Tasikmalaya, Tjitjih Kurniasih, yang turut hadir mengaku terharu. Menurutnya, menanam di medan curam saat musim hujan butuh keberanian lebih. “Ini aksi heroik. Saya harap semangat ini menular. Tugas kita selanjutnya memastikan pohon-pohon ini tumbuh besar agar anak cucu tidak mewarisi bencana,” pesan Tjitjih.

Harapan Hijau untuk Huru Kapas

Jambore Tanam ke-7 menjadi bukti bahwa ketika pemuda bergerak, alam punya harapan. Dengan kembalinya hijau di Huru Kapas, warga berharap ketersediaan air kembali stabil dan Desa Dirgahayu bisa tidur lebih tenang tanpa bayang-bayang longsor.

Kolaborasi AMANAT, BEM Unper, dan masyarakat ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak cukup dijawab dengan seminar. Butuh tangan yang mau kotor, kaki yang siap menapaki lereng, dan hati yang peduli pada bumi.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama