Media Warga+62.My.Id – Duka mendalam menyelimuti Iwan (47), seorang tukang pijat keliling asal Tasikmalaya. Putranya, Reihan, siswa kelas 9 SMP, mengembuskan napas terakhir di ruang ICU RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya setelah menjalani perawatan intensif selama 10 hari.
Kini, di tengah kehilangan, Iwan dihadapkan pada kenyataan pahit lain: tagihan biaya perawatan sebesar Rp20 juta yang harus dilunasi ke pihak rumah sakit. Kartu BPJS Kesehatan yang diharapkan bisa meringankan beban belum aktif, sementara santunan dari Jasa Raharja masih dalam proses.
“Anak saya sebentar lagi ujian sekolah. Sekarang itu tinggal kenangan,” ucap Iwan lirih, Sabtu (11/04/2026).
Kematian Reihan masih menyisakan tanda tanya. Hingga kini keluarga belum mendapat kepastian hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dari kepolisian. Di satu sisi, polisi sempat menyebut peristiwa yang menimpa Reihan sebagai kecelakaan tunggal. Namun di sisi lain, beredar informasi dari lingkungan korban bahwa sebelum kejadian, Reihan diduga dicekoki minuman keras, diberi obat-obatan, dan dikeroyok oleh teman-temannya.
Dua versi yang bertolak belakang itu membuat Iwan hanya bisa berharap aparat bekerja profesional dan transparan.
“Entah mana yang benar. Saya cuma minta polisi segera mengungkap kematian anak saya. Biar terang, biar kami ikhlas,” tuturnya.
Iwan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari memijat keliling kampung mengaku tak tahu harus mencari dana ke mana untuk menebus biaya rumah sakit. Selama 10 hari di ICU, berbagai upaya medis telah dilakukan, namun nyawa Reihan tak tertolong.
Pihak keluarga kini menanti dua hal: kepastian hukum atas penyebab kematian Reihan dan kejelasan bantuan pembiayaan rumah sakit, baik dari BPJS maupun Jasa Raharja.
“Kami percaya polisi akan bekerja maksimal. Mudah-mudahan diusut tuntas, tidak ada yang ditutupi. Kasihan anak saya kalau kematiannya tidak jelas,” kata Iwan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan. Keluarga bersama warga sekitar berharap kasus ini mendapat atensi agar kebenaran terungkap dan kejadian serupa tidak menimpa anak-anak lain.
Sementara itu, jenazah Reihan telah dimakamkan di pemakaman umum tak jauh dari rumah duka. Bangku sekolah yang seharusnya ia duduki saat ujian nanti, kini kosong untuk selamanya.***
