Dari Hobi Jadi Bisnis Global, Ridwan Shidiq Ekspor Climbing Hold Tasikmalaya ke Korea dan Asia Tenggara

Media Warga+62.My.id – Bermodal hobi memanjat tebing, Ridwan Shidiq, 28 tahun, kini menjelma menjadi eksportir alat panjat tebing asal Tasikmalaya. Produk andalannya, climbing hold berbahan fiber, resin, dan campuran pasir, sudah dipakai atlet dan komunitas di Asia Tenggara, Korea, hingga beberapa negara lain.

Omzetnya tak main-main. Setiap bulan, pemuda ini berhasil membukukan penjualan hingga ratusan juta rupiah. Semua berawal dari ruang produksi sederhana di rumahnya.

Ridwan mengisahkan, ketertarikannya pada dunia panjat tebing membawa dia ke titik ini. Dulu, ia kesulitan mendapat climbing hold berkualitas dengan harga terjangkau untuk latihan pribadi. Akhirnya ia memutuskan membuat sendiri.

“Berawal dari hobi. Saya bikin climbing hold untuk kebutuhan sendiri. Teman-teman lihat hasilnya bagus, lalu minta dibuatkan juga. Lama-lama saya kepikiran, kenapa tidak dipasarkan sekalian,” ujar Ridwan.

Tahun 2020 menjadi momentum penting. Ridwan membulatkan tekad untuk serius menggarap usaha ini. Ia merancang brand “Faster” sebagai identitas produknya. Nama itu dipilih karena filosofi kecepatan, ketepatan, dan daya cengkeram kuat, persis seperti karakteristik climbing hold yang dibutuhkan pemanjat.

Konsistensi menjaga kualitas bahan dan detail bentuk membuat Faster cepat dilirik pasar. Pesanan berdatangan dari komunitas panjat tebing di berbagai kota. Tak butuh waktu lama, pembeli dari luar negeri mulai masuk melalui media sosial dan marketplace. Kini Faster rutin dikirim ke negara-negara Asia Tenggara, Korea, dan beberapa negara lain.

Untuk satu set climbing hold, Ridwan membanderol harga mulai Rp2,5 juta. Nominal tersebut fleksibel, tergantung kuantitas dan tingkat kesulitan desain yang diminta. Dengan kapasitas produksi yang terus bertambah, ia mampu memenuhi permintaan partai besar tanpa mengorbankan kualitas.

Usaha yang awalnya dikerjakan sendiri itu kini berkembang. Ridwan telah mempekerjakan 7 orang karyawan tetap. Mereka menangani proses pencetakan, pengamplasan, pewarnaan, hingga pengepakan. Sebagian besar timnya adalah anak muda sekitar tempat tinggalnya yang ia latih dari nol.

Kesuksesan ini membawa Ridwan pada pencapaian pribadi yang paling ia syukuri: memberangkatkan kedua orang tuanya berhaji ke Tanah Suci. Baginya, itu adalah bukti nyata bahwa kerja keras dan doa tidak pernah mengkhianati hasil.

“Alhamdulillah, dari penjualan climbing hold ini saya bisa wujudkan mimpi memberangkatkan haji bapak dan mamah. Rasanya lega dan bersyukur sekali,” tuturnya.

Tak hanya fokus bisnis, Ridwan juga aktif berbagi motivasi kepada generasi muda. Ia percaya kunci sukses adalah memaksimalkan waktu, tenaga, dan pikiran secara konsisten. Baginya, berhenti berharap sama dengan berhenti hidup.

“Harapan adalah hidup. Hidup tanpa harapan mati. Jadi selama kita masih mau berusaha, pintu rezeki pasti ada,” kata Ridwan.

Di akhir obrolan, ia menitipkan pesan yang selalu ia pegang: jangan pernah melupakan orang tua. Ridwan yakin, semua pencapaian yang ia raih hari ini tidak lepas dari restu dan doa kedua orang tuanya.

“Rezeki saya yakin datang berkat doa orang tua. Mau sesukses apa pun, jangan sampai lupa dari mana kita berasal,” pesannya.

Kisah Ridwan Shidiq menjadi bukti bahwa potensi lokal bisa bersaing di pasar global. Dari Tasikmalaya, climbing hold Faster kini menempel di puluhan dinding panjat dunia, membawa nama Indonesia semakin tinggi, setinggi tebing yang biasa ia daki dulu.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama