Prihatin Kiprahnya Dilupakan, Rani Permayani Dorong Raden Ayu Lasminingrat Jadi Pahlawan Nasional


Media Warga+62.My.id – Wakil Ketua Dekranasda dan juga Istri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rani Permayani, mengaku prihatin karena banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui kiprah Raden Ayu Lasminingrat, seorang tokoh perempuan pejuang asal Jawa Barat yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan pendidikan.

Padahal, jasa dan pemikirannya sangat besar, bahkan melampaui zamannya. Namun namanya seolah tenggelam jika dibandingkan dengan tokoh perempuan lainnya.

"Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu siapa itu Raden Ayu Lasminingrat. Padahal beliau ini tokoh perempuan Jawa Barat yang luar biasa, pelopor pemberdayaan perempuan," ujar Rani, Minggu, (20/09/2026).

Untuk itu, ia berupaya untuk menggencarkan sosialisasi tentang keteladanan Raden Ayu Lasminingrat melalui berbagai organisasi perempuan, komunitas, hingga kegiatan-kegiatan edukatif di sekolah.

Rani pun menegaskan akan berupaya mendukung dan mendorong agar Raden Ayu Lasminingrat diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Menurutnya, perjuangan dan karya-karya Lasminingrat sangat layak untuk mendapatkan gelar tersebut.

Namun, kata dia, untuk mewujudkan hal tersebut tidak bisa instan. Harus ada mekanisme formal, yakni berdasarkan usulan dari pemerintah daerah, kemudian ke tingkat Provinsi Jawa Barat, dan dilanjutkan ke Kementerian Sosial RI.

"Saya belum sempat ngobrol dengan Ibu Wali untuk membicarakan rencana tersebut, karena untuk menjadikan Raden Ayu Lasminingrat sebagai Pahlawan Nasional harus ada usulan resmi dari pemerintah daerah, lalu ke tingkat Provinsi, dan dilanjutkan ke Kementerian Sosial," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa Raden Ayu Lasminingrat adalah ibunda Raden Ayulia yang berasal dari Sukapura, sementara ayahnya adalah Raden Muhamad Musa dari Garut, seorang Bupati Garut yang dikenal sebagai sastrawan.

Menurut Rani, Raden Ayu Lasminingrat telah banyak berkiprah bagi pemberdayaan perempuan di era kolonial, di saat akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas. Beliau bahkan pernah menerbitkan beberapa judul buku yang fenomenal pada masanya.

"Beliau menerbitkan buku Wacana seperti Warna Sari Jilid 1 dan 2, Cerita Erman yang laku hingga 6 ribu eksemplar di zamannya. Itu jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu," jelasnya.

Bahkan, fakta sejarah yang jarang diketahui, Raden Dewi Sartika, pahlawan pendidikan perempuan Jawa Barat, pun didorong oleh Raden Ayu Lasminingrat untuk mendirikan Sakola Istri, sekolah pertama bagi perempuan di Tanah Sunda.

"Bahkan Raden Dewi Sartika pun didorong oleh Raden Ayu Lasminingrat untuk mendirikan Sakola Istri. Jadi beliau ini inspirator dari pahlawan kita," ungkapnya.

Rani mengaku pernah membuat film dokumenter yang menceritakan tentang kiprah Raden Ayu Lasminingrat. Hal itu ia lakukan sebagai upaya untuk mengenalkan kembali pahlawan yang terlupakan kepada masyarakat luas, terutama generasi Z.

"Mudah-mudahan di Kota Tasikmalaya bisa diperjuangkan kembali. Karena beliau ini punya keterkaitan dengan Tasikmalaya dan Garut," harap Rani.

Ia mengungkapkan kendala yang dihadapi sebelumnya adalah belum ada kajian secara akademis yang komprehensif tentang Raden Ayu Lasminingrat. Untuk itu perlu dibuat buku akademik yang biayanya mencapai Rp 56 juta, sehingga rencana pengusulan sebagai pahlawan nasional sempat tertunda.

Ia pun berharap dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, budayawan, dan masyarakat, untuk mewujudkan harapan agar Raden Ayu Lasminingrat diakui sebagai Pahlawan Nasional.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama